Cari di Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Jambi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jambi. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Desember 2014

Danau Gunung Tujuh, Danau Indah Tertinggi Di Indonesia

Obyek wisata Danau Gunung Tujuh berlokasi di Desa Pelompek, Kecamatan Ayu Aro, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Danau Gunung Tujuh merupakan sebuah kaldera yang terbentuk akibat letusan gunung api yaitu Gunung Tujuh. Danau yang memiliki pemandangan indah dan berhawa sejuk ini berada pada ketinggian 1.950 meter di atas permukaan laut sehingga menjadi danau kaldera paling tinggi di Asia Tenggara.

Danau Gunung Tujuh, Kerinci, Jambi (Gambar 1). ZonaAero
Danau Gunung Tujuh, Kerinci, Jambi (Gambar 1).
Danau Gunung Tujuh terbilang sebagai danau yang cukup langka dan sedikit didapati di kawasan lain di dunia. Selain menawarkan pesona panorama yang indah, Danau Gunung Tujuh yang sebenarnya adalah sebuah kaldera dan berlokasi di puncak Gunung Tujuh pada ketinggian sekira 1.950 meter di atas permukaan laut (mdpl) menjadikannya sebagai danau kaldera tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Danau yang memiliki luas sekira 960 hektar, panjang 4,5 km, serta lebar 3 km ini berada di Desa Pelompek, Kecamatan Ayu Aro, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi.

Lokasinya yang berada tinggi di atas gunung menjadikan suasana Danau Gunung Tujuh masih terpelihara keasrian dan kealamiannya. Udara di kawasan danau ini terasa sangat segar, panoramanya menghijau, ditambah air danau yang jernih, benar-benar menyuguhkan keindahan yang membuat para pengunjung menjadi betah berlama-lama meninkmati suasana dan pemandangannya. Selain menjadi obyek wisata pegunungan, Danau Gunung Tujuh juga sudah sejak lama menjadi sumber mata pencaharian bagi nelayan setempat.

Seperti telah disampaikan secara sekilas pada alinea awal tulisan ini, Danau Gunung Tujuh adalah danau vulkanik yang terbentuk karena proses letusan gunung api yaitu Gunung Tujuh di Kabupaten Kerinci. Letusan gunung tersebut menyebabkan terbentuknya sebuah kawah besar yang kemudian terisi oleh air hujan sehingga membentuk sebuah danau. Danau Gunung Tujuh mengaliri beberapa sungai di Jambi, salah satu alirannya bermuara di Sungai Batanghari. Danau gunung tujuh memiliki luas sekira 12.000 m² dan termasuk dalam wilayah Taman Nasional Kerinci Semblat sehingga di sini wisatawan berkesempatan untuk mendakinya selepas mengunjungi danau ini.

Danau Gunung Tujuh, Kerinci, Jambi (Gambar 2). ZonaAero
Danau Gunung Tujuh, Kerinci, Jambi (Gambar 2).
Danau ini dinamakan Danau Gunung Tujuh karena memang dikelilingi tujuh puncak gunung di sekitarnya. Gunung-gunung tersebut yaitu: Gunung Hulu Tebo (2.525 meter), Gunung Hulu Sangir (2.330 m), Gunung Madura Besi (2.418 m), Gunung Lumut yang ditumbuhi berbagai jenis lumut (2.350 m), Gunung Selasih (2.230 m), Gunung Jar Panggang (2.469 m), dan Gunung Tujuh (2.735 m).

Seperti pada umumnya tempat-tempat di Indonesia, Danau Gunung Tujuh pun memiliki kisah dan legendanya tersendiri. Keberadaan danau ini beriring dengan cerita legenda masyarakat setempat sebagai tempat berdiamnya kekuatan supranatural dari dua mahluk halus yang menjaganya yaitu Lbei Sakti dan Saleh Sri Menanti dengan pengikutnya yang berwujud harimau. Penuturan lain menceritakan bahwa danau ini dihuni sepasang naga. Naga jantan menghuni danau dan naga betina menghuni hulu sungainya. Masyarakat Kerinci mengenali Danau Gunung Tujuh sebagai Danau Sakti. Hal tersebut dikaitkan dengan air danau yang senantiasa bersih dimana dedaunan yang jatuh dari pohon di sekitar danau tidak nampak di airnya. Sering pula diceritakan terjadi perubahan cuaca secara tiba-tiba di danau ini. Sebagian warga sekitar menyebutnya danau ini dengan nama Danau Para Dewa yang menyimpan pesona sekaligus misteri.

Akses Menuju Danau Gunung Tujuh

Danau Gunung Tujuh terbilang mudah dijangkau dan menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Kabupaten Kerinci dan Jambi. Untuk mencapai Danau Gunung Tujuh, wisatawan membutuhkan waktu sekitar 3,5 jam dari Jambi ke ke Kota Sungai Penuh lalu ke Desa Pelompek. Jarak dari Kota Sungai Penuh ke Desa Pelompek sekitar 1,5 jam atau sekira 50 km. Dari Kota Sungai Penuh menuju gerbang pos Taman Nasional Kerinci Semblat (TNKS) di Desa Pelompek di Kecamatan Kayu Aro berjarak sekira 35 km. Dari pintu gerbangnya, para wisatawan perlu berjalan sekira 2 hingga 3 jam dengan kondisi jalan setapak yang landai dan menanjak.

Ada dua rute untuk menuju Danau Gunung Tujuh. Rute pertama, dari pos jaga kawasan Gunung Tujuh ke tepi danau dengan jarak 3 km sekira 2,5 jam. Rute kedua, dari belakang wisma tamu Gunung Tujuh ke tepi danau dengan jarak 2,5 km.

Akomodasi

Tidak tersedia hotel dan penginapan di sekitar Danau Gunung Tujuh tetapi Anda bisa menemukan beberapa homestay tidak jauh dari Desa Pelompek masih di lokasi Danau Gunung Tujuh. Pilihan lain adalah Anda menginap di Sungai Penuh karena di lokasi tersebut terdapat terdapat hotel kelas melati dengan pelayanan cukup baik. Harganya berkisar Rp100.000,- hingga Rp150.000,- per malam.

Danau Gunung Tujuh, Kerinci, Jambi (Gambar 3). ZonaAero
Danau Gunung Tujuh, Kerinci, Jambi (Gambar 3).
Kegiatan

Melewati perkebunan penduduk dan hutan dengan keragaman flora dan faunanya saat menuju Danau Gunung Tujuh akan menjadi pengalaman mengesankan. Hamparan gunung terlihat indah dari kejauhan yang akan memuaskan batin wisatawan setelah pendakian. Di danau ini wisatawan bisa bersantai menikmati panorama menawan sekitar danau. Di di pinggir danau terdapat hamparan pasir putih yang menyerupai pasir pantai. Biasanya pengunjung mendirikan tenda untuk berkemah di sini. Saat pagi hari kadang ada yang berkumpul di pinggir danau untuk menyaksikan Matahari terbit.

Apabila wisatawan datang berkelompok maka mengapa tidak berkemah di pinggir danau? Kegiatan tersebut akan sangat sempurna untuk merasakan suasana alam yang hening dan tenang jauh dari kebisingan kota. Di sini juga wisatawan dapat memancing atau menyewa perahu nelayan untuk berkeliling danau. Perahu nelayan tersebut terbuat dari satu kayu bulat utuh berdiameter 30-40 cm yang dibentuk seperti perahu.

Danau Gunung Tujuh masuk dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Semblat sehingga memberi wisatawan kesempatan untuk menjelajahi hutan sekitarnya. Berbagai jenis satwa khas di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) adalah: harimau sumatera, siamang, beruang madu, babi hutan, tapir, bermacam burung, dan berbagai jenis kupu-kupu. Tumbuhannya pun beragam dengan primadonanya adalah jenis anggrek alam dan bunga kantong semar.

Suhu di Danau Gunung Tujuh pada siang dan malam hari tergolong dingin. Rata-rata 16º-17º C di siang hari dan 10º-11º C pada malam hari sehingga mengharuskan wisatawan membawa jaket apabila berkunjung ke sini. Di Danau Gunung Tujuh tidak terdapat penjual makanan karena itu ada baiknya wisatawan membawa perbekalan dan makanan. Terlebih apabila wisatawan berencana berkemah di sini.

Tempat menarik lain di sekitar danau gunung tujuh yang patut untuk dikunjungi adalah Air Terjun Gunung Tujuh. Air terjun tersebut airnya berasal dari Danau Gunung Tujuh. Untuk menuju lokasinya wisatawan dapat menggunakan jalur setapak yang tidak jauh dari wisma peristirahatan di dekat pos jaga di kaki gunung.

Kuliner

Tidak jauh dari Danau Gunung Tujuh terdapat warung yang menyediakan makanan khas Kerinci seperti beras payo, teh kayu aro, kacang tojin, gulai ikan semah, lemang, dan dendeng bateko. Para wisatawan juga bisa merasakan nikmatnya teh kayu aro di sini. Untuk pengalaman kuliner yang berbeda mengapa tidak menikmati ikan air tawar hasil tangkapan dari Danau Gunung Tujuh yang cukup gurih. Nikmati ikan ini sembari menikmati panorama alam yang elok.

wikipedia.org, indonesia.travel

Selasa, 25 Desember 2012

Pesona Sungai Batanghari Jadi Obyek Wisata Sungai Di Jambi

Sungai Batanghari Jambi
Jambi Akan Kembangkan Wisata Sungai

Gubernur Jambi Hasan Basri Agus mengatakan, pihaknya akan mengembangkan potensi pariwisata, khususnya wisata sungai di daerah tersebut. Dia mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi akan mengembangkan Sungai Batanghari, khususnya di wilayah Kota Jambi dan Seberang sebagai basis tujuan wisata budaya dan kuliner. "Obyek utamanya adalah keindahan Sungai Batanghari dan Kampung Seberang yang kental nuansa tradisional dan religiusitasnya," kata Hasan Basri AGus di Jambi, Sabtu (22/12/2012).

Pemprov Jambi juga akan membangun kawasan khusus untuk kuliner khas Jambi di daerah seberang itu, namun dengan tetap mempertahankan kondisi asli bangunan dan struktur wilayah tersebut. "Seberang akan kita kembangkan menjadi daerah tujuan wisata, namun dengan tetap mempertahankan bentuk asli, baik dalam bidang arsitekturnya, sosial, agama dan budayanya. Sebab karena hal-hal itulah, Kampung Seberang menjadi menarik," katanya.

Saat ini, rencana sudah dimulai dengan membangun jam menara dan jembatan pendestrian. Jam dan jembatan itu akan menjadi ikon kota. Menurut Hasan, pembangunan jam menara dan jembatan yang memakan dana hampir Rp 100 miliar itu tidak lepas dari pro dan kontra. "Ada sebagian masyarakat yang mengatakan bahwa pembangunan jam menara dan fasilitas lainnya itu adalah pemborosan. Namun menurut saya, kalau dinilai dalam jangka pendek, memang benar. Namun kita harus memandang jauh ke depan. Setiap kota butuh ikon dan kebanggaan bagi warganya sendiri. Jadi proyek itu akan dapat dinikmati oleh generasi hingga masa mendatang," jelasnya.

Gubernur Jambi mencontohkan pembangunan monumen nasional pada zaman Bung Karno. Menurutnya, pada akhirnya masyarakat Indonesia sadar bahwa setiap bangsa butuh sesuatu yang monumental bagi kebanggaannya. "Kita perlu ikon, suatu kota butuh ikon sebagai kebanggaannya. Proyek ini jangan dilihat dengan jangka pendek, tapi pandanglah dengan jauh ke depan." katanya.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Jambi juga mencanangkan kegiatan gerakan Batanghari Bersih yang diprogram oleh Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jambi. Kegiatan yang bertujuan menjaga dan melindungi kondisi air dan bantaran Sungai Batanghari dari berbagai kotoran dan gerusan abrasi itu diikuti oleh lebih 500 orang yang tergabung dalam Komunitas Batanghari Bersih. "Selain sebagai sumber kehidupan, Sungai Batanghari juga merupakan obyek wisata yang potensial untuk dikembangkan di masa mendatang sehingga seluruh masyarakat Jambi wajib menjaga keindahan dan kelestarian sungai itu," kata Hasan.

travel.kompas.com

Sabtu, 01 Desember 2012

Penerbangan Perdana Bandara Muara Bungo – Bandara Sultan Thaha Saifuddin Jambi Sukses Dilaksanakan

Bandara Muara Bungo
Penerbangan Perdana Sukses

Penerbangan perdanan pesawat dari Bandara Bungo ke Bandara Jambi setelah diresmikan operasionalnya hari Minggu (25/11/2012) lalu berjalan sukses. Operasional perdananya dilakukan Kamis (29/11/2012) dengan penerbangan pertamanya dari Bungo dengan membawa rombongan unsur Muspida dan anggota DPRD Bungo. Dalam penerbangan perdana kemarin, sepuluh penumpang diangkut dengan waktu kurang lebih 30 menit ke bandara Sultan Thaha Saifuddin Jambi dengan menggunakan pesawat jenis Cassa. "Penerbangan perdana sudah kita lakukan dengan lancer dan sukses. Rutenya tadi (kemarin, red) baru Bungo–Jambi dan sebaliknya," ujar Dharma Windra, Kabid Udara Dishub Kabupaten Bungo, kepada Bute Ekspres, Kamis (29/11).

Sesampainya di Bandara Jambi, rombongan Kapolres Bungo beserta beberapa wakil rakyat Kabupaten Bungo istirahat beberapa saat untuk kemudian langsung bertolak ke Kabupaten Bungo. Dalam penerbangan dari Jambi ke Bungo, Ketua TP PKK Kabupaten Bungo, Hj Enni Wardhani Sudirman ikut menjadi salah satu penumpang.

Untuk harga tiket dengan rute Bungo-Jambi dan sebaliknya, pihak maskapai Susi Air menjualnya seharga Rp 260 ribu. Sedangkan untuk Bungo–Bengkulu dan sebaliknya sekitar Rp 300 ribu. Sementara untuk waktu penerbangan untuk sementara ini hanya berlaku pada hari Kamis dan Minggu saja. "Sementara ini harga tiket untuk dua rute itu masih dibawah Rp 300 ribu," terangnya kembali.

Untuk mendapatkan tiketnya, selain bisa langsung ke bandara, calon penumpang juga bisa membelinya di Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Bungo. "Tiket bisa beli di kantor Dishub dan Bandara. Kapasitas penumpang sementara ini sekitar dua belas orang," pungkasnya mengakhiri.

www.jambiekspres.co.id

Selasa, 30 Oktober 2012

Pemerintah Segera Buka Penerbangan Perintis Lingga-Jambi Tahun 2013

Penerbangan perintis
Penerbangan Perintis Lingga-Jambi Segera Dibuka

Di tengah sengketa kepemilikan Pulau Berhala, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan memastikan pembukaan kembali penerbangan perintis rute Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepri, ke Jambi dengan skema subsidi mulai 2013. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara telah menyetujui kelayakan, dan skema subsidi pengoperasionalannya. "Benar. Itu sudah disetujui untuk 2013," kata Bambang S Ervan, Jubir Kemenhub, dikonfirmasi per telepon.

Kendati mengaku belum mengetahui informasi itu, Pemprov Jambi lewat instansi terkait juga menyambut positif rencana itu. Pembukaan rute perintis itu bakal menghadirkan jalur distribusi baru ke Lingga dari Jambi, yang selama ini sudah terkoneksi lewat jalur transportasi laut, meski belum optimal. "Kalau pusat bilang akan ada rute penerbangan perintis baru. Kita siapkan saja," ujar Bernhard Pandjaitan, Kepala Dishub Provinsi Jambi.

Namun detail teknisnya, menurut Pandjaitan berada di PT Angkasa Pura. Informasi yang terhimpun, persiapan telah dilakukan di Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, termasuk pengaspalan landas pacu bandara di wilayah yang pernah menjadi magnet tambang timah itu. Nantinya pesawat tipe Cessna yang akan melayani rute itu, dengan kapasitas penumpang 7-12 orang.
Pembukaan didasari pertimbangan tidak sedikit kebutuhan barang di Lingga dipasok dari Jambi. Selain itu, juga membuka akses ke Lingga. Pengamat kebijakan publik Jambi, Dasril Rajab menilai kebijakan itu positif. Karena akan menguntungkan kedua belah pihak. Jambi sarannya, harus merespon sekaligus menangkap peluang itu. "Tidak hanya Pemprov, Jambi juga harus berbenah, mempersiapkan kebutuhan yang diperlukan," kata Dasril, akhir pekan lalu. Dia menambahkan, bukan tidak mungkin ada peluang komersial di baliknya.

Pemprov Jambi berjanji segera mengoordinasikan dengan Pemprov Kepri begitu rencana itu mendekati eksekusi. Meski mengaku belum mengetahui detailnya, Dishub Provinsi Jambi menilai positif. Bahkan Bappeda Provinsi menyebut rencana itu bakal menghadirkan jalur distribusi baru. Dishub siap mengkoordinasikan dengan PT Angkasa Pura II, yang membawahkan pengelolaan Bandara Sultan Thaha, termasuk penentuan jenis pesawat yang melayani rute itu. "Kami belum tahu. Sampai saat ini belum ada pemberitahuan dari pusat untuk itu. Tapi, kalau benar, pembicaraan teknisnya (nanti) dengan PT Angkasa Pura II," kata Pandjaitan, Kadishub Jambi.

Secara teknis, apabila pemerintah pusat menyetujui penerbangan perintis, dia mengatakan, pihak PT AP II yang mengurusi detail selanjutnya. Dishub katanya, hanya akan mengurus sebatas wewenang lalu lintas dua provinsi, Kepri dan Jambi. "Sekarang belum ada kontak (dengan Pemprov Kepri). Kita kan belum tahu itu," ujar Pandjaitan. Namun dia meyakini, rencana itu bakal merangsang pertumbuhan kedua provinsi. "Kalau bandara baru (Sultan Thaha) jadi. Penerbangan kan semakin ramai," kata Pandjaitan. "Itu nanti kan ditentukan tipe pesawat," imbuhnya.

Apalagi berdasarkan informasi yang terhimpun, selain ke Jambi, penerbangan perintis juga dijajaki ke Batam dan Tanjung Pinang, yang berjarak sepelemparan batu dari Singapura. Jika ini terealisasi, akses lalu lintas orang, secara tidak langsung ke Negeri Singa. Jangka pendek, menurut Pandjaitan, pembukaan itu menambah akses dan jalur distribusi ke Lingga dari Jambi, dan sebaliknya. Selama ini, akses hanya terkoneksi dengan moda kapal laut.

www.tribunnews.com