Cari di Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Sukhoi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sukhoi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Februari 2013

Pesawat Sukhoi Pertama Sky Aviation Layani Penerbangan Di Indonesia Timur

Pesawat terbang penumpang jenis Sukhoi Superjet 100 milik maskapai Sky Aviation direncanakan akan melayani penerbangan di kawasan Indonesia bagian timur. Sukhoi Superjet 100 ini merupakan yang pertama milik Sky Aviation dan dijadwalkan beroperasi mulai Kamis, 28 Februari 2013. Rute penerbangan yang akan dilayani pesawat terbang komersial buatan Rusia ini adalah Makassar-Sorong-Jayapura, Makassar-Luwuk, Makassar-Balikpapan, dan Makassar-Bali.
Sukhoi Superjet 100. ZonaAero
Sukhoi Superjet 100
Pesawat Sukhoi Sky Aviation Layani Penerbangan Mulai Kamis

PT Sky Aviation dijadwalkan melepas pesawat barunya Sukhoi Superjet (SSJ) 100 untuk dioperasikan mulai Kamis (28/2/2013). Pesawat tersebut bakal beroperasi di wilayah timur Indonesia. General Manager (GM) Marketing PT Sky Aviation, Sutito Zainuddin memastikan pesawat buatan Rusia tersebut akan hadir di Indonesia mulai Rabu (27/2/2013). Pesawat akan didaratkan di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta. "Satu hari kemudian kita langsung melakukan launching pesawat baru kami," kata Sutito kepada Tribunnews, Selasa (26/2/2013).

Namun launching tersebut tidak disertai dengan joyflight. Sutito berkilah, pesawat tersebut nantinya langsung dioperasikan menerbangkan penumpang.

Dia menjelaskan, pesawat tersebut akan beroperasi di wilayah Indonesia bagian timur. Menurutnya, rute yang bakal dilewati oleh Sukhoi adalah Makassar-Sorong-Jayapura pergi pulang, Makassar-Luwuk pp 7kali seminggu, sedangkan rute Makassar-Balikpapan bakal dilewati 4 kali seminggu. Untuk rute Makassar-Bali, jelasnya, Sky akan melayani penerbangan rute itu setiap wiken yaitu pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu. "Rute-rute ini akan kami maksimalkan setelah pesawat Sukhoi lainnya datang dalam waktu dekat ini," ujarnya.

Sutito melanjutkan, tahun ini Sky Aviation memproyeksikan untuk mendatangkan lima unit pesawat SSJ 100. Bila lima pesawat tersebut telah hadir, maka seluruh kota di Indonesia bakal diterbangi. "Kita juga berencana terbang ke Sumatera, Kalimantan dan Jawa dengan Sukhoi," jelasnya.

www.tribunnews.com

Senin, 31 Desember 2012

Pesawat Sukhoi Superjet 100 Pertama Pesanan Sky Aviation Telah Resmi Diterima

Sukhoi Superjet 100 (SSJ 100)
Sky Aviation Terima Pesawat Sukhoi Pertama

Maskapai penerbangan Indonesia, Sky Aviation, resmi menerima pesawat penumpang Sukhoi Superjet 100 (SSJ 100) pertama dari perusahaan Sukhoi Civil Aircraft Company (SCAC), Sabtu (29/12/2012). Informasi yang diperoleh dari Kedutaan Besar Rusia di Jakarta, Minggu (30/12), menyebutkan bahwa penandatanganan akta serah terima pesawat tersebut dilakukan oleh perwakilan Sky Aviation dan SCAC di Kota Ulyanovsk, Rusia.

Menurut jadwal, pesawat dengan nomor seri produksi (MSN) 95022 itu akan diterbangkan langsung dari pusat pengiriman Sukhoi di Ulyanovsk menuju bandar udara basis operasi Sky Aviation di Indonesia pada Januari 2013. Pada bulan yang sama, Sky Aviation langsung mengoperasikan pesawat tersebut.

Dokumen yang ditandatangani kedua pihak itu menyatakan bahwa secara teknis pesawat itu sudah memenuhi semua kriteria kinerja. Akta serah terima itu juga menegaskan bahwa SSJ 100 tersebut diserahkan ke operatornya dengan dokumentasi lengkap operasional dan pemeliharaan, serta berikut kit penerbangannya.

Ada 5 Sukhoi Siap Terbang Tahun Depan

Maskapai penerbangan Sky Aviation mengatakan, akan ada lima pesawat Sukhoi Superjet 100 yang akan tiba ke Indonesia sepanjang tahun 2013. Hal ini disampaikan Sutito Zainudin General Manager Marketing Sky Aviation. "Tahun 2013 akan datang lima unit. Pada bulan Januari 1 unit, Februari 1 unit, Maret 1 unit, sisanya akan bertahap," ujar Tito, Jumat (28/12/2012).

Tito mengatakan, Sukhoi yang akan datang tersebut akan berada di Jakarta, Denpasar, Makassar, dan Pekanbaru. Namun, sayangnya, Tito belum bisa menjelaskan rute tujuan mana yang akan diterbangi Sukhoi Superjet 100 tersebut. Tito hanya mengatakan, pesawat tidak hanya digunakan untuk penerbangan berjadwal, tetapi bisa juga untuk penerbangan carteran. "Karena kami punya dua izin (penerbangan jadwal dan carteran). Ya kami akan gunakan keduanya," ujarnya.

Seperti diketahui, Agustus 2011, Sky Aviation telah memesan 12 unit pesawat Sukhoi Superjet 100 dari Sukhoi Civil Aircraft Company senilai 380,4 juta dollar AS. Kedatangan 12 pesawat tersebut akan bertahap, mulai dari tahun 2013 sampai tahun 2015.

bisniskeuangan.kompas.com

Kamis, 29 November 2012

Sukhoi Superjet 100 Lolos Uji Terbang Di Wilayah Udara Indonesia

Sukhoi Superjet 100
Kemenhub: Pesawat Sukhoi SJ-100 Bisa Terbang di Indonesia

Kementerian Perhubungan menyatakan secara resmi pesawat komersial Sukhoi Super Jet (SJ-100) lolos uji terbang di wilayah udara Indonesia. Nantinya, pesawat Sukhoi SJ-100 bisa memiliki nomor registrasi penerbangan di Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan Kapuskom Publik Kementerian Perhubungan Kemenhub Bambang S. Ervan kepada wartawan di Jakarta (28/11/2012). "Sudah keluar setifikasi tipe A-901 minggu lalu dengan begitu pesawat Sukhoi ini sudah didaftarkan di Kemenhub sudah teregistrasi," tuturnya.

Namun, setelah tiba di Indonesia, Kemenhub tetap akan melakukan pengecekan kembali untuk memastikan kelayakan terbang Sukhoi SJ-100 ini. "Setelah datang nanti pesawat kita periksa lagi apakah sudah sesuai dengan spesifikasi setelah Kemenhub akan mengeluarkan aircraft sertificate," tambahnya.

Terkait rencana Sky Aviation mendatangkan pesawat ini pasca tragedi jatuhnya pesawat sejenis pada acara joy flight di Gunung Salak. Bambang menegaskan, Sky Aviation bisa menggunakan pesawat asal pabrikan Rusia ini. "Sehingga Sky Aviation sudah bisa mendatangkan pesawat Sukhoi," pungkasnya.

finance.detik.com

Rabu, 20 Juni 2012

Rusia Segera Buat Simulasi Insiden Pesawat Sukhoi Superjet 100

Sukhoi Superjet 100
Rusia Buat Simulasi Jatuhnya Sukhoi

Rusia segera menyimulasikan penerbangan pesawat Sukhoi Superjet 100 yang menabrak tebing di Gunung Salak, Jawa Barat, pada Rabu 9 Mei 2012 yang lalu. Simulasi itu akan menggunakan jenis pesawat yang sama. "Kami akan memeragakan penerbangan SSJ secara real time pada ketinggian yang sama, dengan rintangan, kecepatan, dan koordinat yang sama," kata Menteri Industri dan Perdagangan Rusia, Yury Slyusar seperti dikutip laman RIA Novosti.

Tes itu akan dilaksanakan pada akhir bulan ini. "Kami akan mengembalikan gambar secara penuh," lanjut Slyusar.

Selanjutnya Kementerian Industri dan Perdagangan Rusia akan memberikan laporan hasil investigasi kasus kecelakaan yang menewaskan 45 orang itu sebelum akhir Agustus tahun ini.

Sukhoi Superjet 100 menabrak tebing di di Gunung Salak pada rabu 9 Mei 2012. Saat itu, burung besi buatan Rusia itu tengah melakukan demo terbang keduanya. Sebanyak 45 orang yang berada di dalam pesawat itu tewas. Ini merupakan tragedi terburuk bagi industri penerbangan Rusia.

nasional.vivanews.com

Minggu, 27 Mei 2012

Pascainsiden Superjet 100, SkyAviation Tunda Layani Penerbangan Komersial Di Dumai

Sukhoi Superjet 100
Sky Aviation Tunda Terbangi Dumai Pascakecelakaan Sukhoi

Kecelakaan pesawat Sukhoi Super Jet 100 di Gunung Salak, Jawa Barat beberapa waktu lalu ternyata berpengaruh terhadap rencana Sky Aviation melayani penerbangan umum di Bandara Pinang Kampai, Kota Dumai, Riau. Hal ini dikatakan Kepala Dinas Perhubungan Dumai, Marwan saat dihubungi Antara, Sabtu (26/5), di Kota Dumai.

Menurut dia, manajemen maskapai Sky Aviation kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Dumai telah sepakat kembali membuka buka rute penerbangan komersil tujuan Dumai-Batam pulang pergi sebanyak 2 kali dalam sepekan. Sebelumnya sempat vakum selama lebih kurang 6 bulan karena kendala perizinan terbang. Kesepakatan penerbangan umum ini bahkan sebelumnya telah diumumkan ke khalayak ramai masyarakat Dumai dan sekitarnya.

Kecelakaan yang merenggut belasan nyawa tersebut terjadi sebelum Sky Aviation memulai rencana terbang di Dumai pada 7 Mei 2012 lalu. Namun, karena ada insiden kecelakaan penerbangan perdana Sukhoi, yang juga notabene jenis pesawat yang akan dipakai Sky Aviation, layanan terbang di Dumai mengalami penundaan. "Belum ada konfirmasi pihak Sky Aviation kapan bisa membuka rute penerbangan lagi di Dumai. Informasi mereka menunda penerbangan baru sebatas komunikasi lewat telepon," kata Marwan.

Dia menjelaskan kondisi penerbangan komersil saat ini di bandara Pinang Kampai nihil rute nihil dari maskapai umum. Hal ini disebabkan selain kendala teknis di bandara, juga karena sedikitnya potensi penumpang yang keluar kota memanfaatkan jalur transportasi udara.

www.mediaindonesia.com

Rabu, 23 Mei 2012

PTDI Siap Produksi Komponen Pesawat Sukhoi Superjet 100

Sukhoi Superjet 100 dalam manuver terbang
PT DI Akan Buat Ekor Pesawat Sukhoi Superjet 100

PT Dirgantara Indonesia akan membuat komponen pesawat untuk Sukhoi Superjet 100, sama dengan pesawat yang mengalami kecelakaan di Gunung Salak Bogor. Komponen pesawat yang akan dibuat PT DI, yaitu bagian ekor pesawat, meliputi badan, bagian vertikal dan horizontal ekor.

Kerjasama yang sudah 90 persen positif itu, saat ini sedang memasuki penawaran harga. Jika Sukhoi sudah menyetujui, kerjasama pun hanya tinggal teken kontrak. "Komponen yang ditawarkan Sukhoi untuk kita buat yaitu ekor. Kami sudah kaji kemampuan. Kami juga sudah melewati proses tes produk. Sekarang sedang penawaran harga. Kalau oke, ya kita kerjakan," ujar Kepala Tim Humas PT DI saat berbincang dengan wartawan di Kantor PT DI Jalan Pajajaran, Selasa (22/5/2012).

Ia mengatakan, proyeksi untuk produksi komponen ekor tersebut sudah dibuat hingga 2025. Dimana rata-rata ada 40 komponen per tahun yang harus dibuat. "Kami harap, kerjasama ini bisa deal tahun ini," tutur Sonny.

Nantinya, komponen yang dibuat PT DI akan dipasang untuk pesawat Sukhoi Super Jet 100 yang dipesan oleh berbagai negara. Ia mengatakan, proyek komponen pesawat seperti ini cukup baik bagi PTDI yang tetap berambisi menjual produk peswat secara keseluruhan. Sejak tahun 2003, PT DI membuat komponen peswat untuk berbagai jenis pesawat, seperti untuk Airbus.

bandung.detik.com

Kamis, 17 Mei 2012

Insiden Superjet 100, Aikbat Human Error Atau Cuaca Buruk?

Ilustrasi insiden pesawat Superjet 100
Sukhoi Dihempas Angin?

Berbagai analisa penyebab jatuhnya pesawat Sukhoi Super Jet 100 yang menghantam tebing di kawasan Gunung Salak, pada Rabu (9/5/2012) lalu, muncul dari berbagai pihak. Ada yang mengaitkan dengan nuansa mistik, ada pula yang melihat dari sudut pandang ilmiah. Namun, analisa paling gres berdasarkan data ilmiah disampaikan oleh Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, Sabtu (12/5/012). Ia memperkirakan, Sukhoi menabrak tebing Gunung Salak saat menghindari awan Cumulo Nimbus yang menjulang setinggi 37.000 kaki (11,1 km). "Logika sederhananya, pilot akan mencari jalan keluar yang paling aman. Namun menaikkan pesawat untuk mengatasi awan mungkin dianggap terlalu tinggi, dari 10.000 kaki harus terbang melebihi 37.000 kaki. Karena itu, pilihannya hanya mencari jalan ke kanan, kiri, atau bawah," paparnya.

Karena itu, pilihan minta izin menurunkan ke 6.000 kaki, menurut Thomas, mungkin juga didasarkan pertimbangan ada sedikit celah yang terlihat di bawah, tetapi terlambat memperhitungkan risiko yang lebih fatal karena di ketinggian itu terdapat banyak gunung. Thomas mencatat, data MTSAT menunjukkan bahwa sekitar waktu kejadian, awan di sekitar Gunung Salak memang tampak sangat rapat dengan liputan awan lebih dari 70 persen. Analisis indeks konveksi yang bisa menggambarkan ketinggian awan juga menunjukkan indeks sekitar 30 yang bermakna adanya awan Cb (Cumulo Nimbus) yang menjulang tinggi sampai sekitar 37.000 kaki (11,1 km). Data satelit itu memberi gambaran bahwa saat kejadian, pesawat dikepung awan tebal yang menjulang tinggi. Pada saat sebelum jatuh itu, diinformasikan pesawat turun dari ketinggian 10.000 kaki (3 km) ke 6.000 kaki (1,8 km), padahal tinggi gunung Salak sekitar 2,2 km.

Namun Thomas menegaskan bahwa analisis ini hanya berdasarkan data satelit cuaca, sekadar untuk memberi jawaban sementara berdasarkan data, bukan berdasarkan spekulasi yang tak berdasar. "Analisis komprehensif tentang faktor lainnya tentu kita nantikan dari analisis rekaman penerbangan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), walau tentu saja factor cuaca tetap tak dapat dikesampingkan," katanya.

Sementara itu, mantan Kepala Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan BPPT Syamsul Bahri yang ditemui mengatakan, saat berada di dalam kepungan awan, seorang pilot memiliki risiko yang tinggi untuk tiba-tiba naik atau tiba-tiba turun. "Karena itulah, setiap pilot selalu menghindari awan untuk menghindari risiko ini dengan terbang jauh di atas liputan awan. Namun mungkin si pilot belum menguasai medan yang berat ini," kata pria yang berpengalaman menerbangkan pesawat untuk layanan modifikasi cuaca itu.

Sebelumnya beredar analisa bahwa penyebab jatuhnya pesawat karena terganggu oleh sinyal telepon seluler. Analisa yang dibuat Seand Munir, yang ditayangkan Kompasiana, itu mendasarkan pada info bahwa ponsel milik dua wartawan Majalah Angkasa, Dodi Aviantara dan Didik Yusuf masih aktif selama pesawat mengangkasa. Namun, info tersebut dibantah pihak redaksi Majalah Angkasa, yang mengaku sudah mengecek ke pihak provider dan ahli telematika. Merasa disudutkan oleh info tersebut, maka manajemen majalah Angkasa langsung membuat klarifikasi resmi. "Sehubungan banyaknya beredar informasi tentang aktivasi ponsel di pesawat Sukhoi dari wartawan Majalah Angkasa, kami sudah melakukan pengecekan ke operator seluler dan ternyata ponsel atas nama Dody Aviantra (wartawan Angkasa) mendapatkan sinyal terakhir di Bandara Halim Perdanakusuma pukul 14.16 WIB," ungkap Pemimpin Redaksi Majalah Angkasa, Adrianus Darmawan.

Tentang infomasi bahwa aktivasi ponsel pada pukul 17.00 WIB atas nama wartawan Angkasa, menurut Adrianus, hal itu tidak benar. Pihak Angkasa menyatakan bahwa mereka sangat menyesalkan desas-desus tersebut. "Kami tidak tahu sumber berita ini muncul dari mana dan motivasinya apa. Kami sangat tidak terima dengan kabar ini. Kami sudah mengecek pada pihak provider dan ahli telematika yang menyatakan bahwa ponsel mereka sudah tidak aktif saat penerbangan itu berlangsung," ujar Adrianus.

Menurut Adrianus, kabar itu telah membuat sedih keluarga kedua wartawan Angkasa. "Keluarga korban juga sangat menyanggah berita tersebut," Adrianus nenambahkan.

Akibat Hempasan Angin?

Selain analisa ala pengamat ponsel, muncul pula pandangan dengan melihat pengaruh angin seperti disebutkan dalam laman indocropcircle.com. Menurut penulis di laman tersebut, karena merupakan penerbangan perkenalan, bisa jadi sang pilot ingin menunjukkan performa maksimal dari pesawat dengan melakukan manuver secara 'push to the limit'. Artinya, sang pilot akan menunjukkan kelebihan dari pesawat, misal manuver seperti menukik, berbelok ataupun naik tinggi secara 'tak biasa'. Namun karena kondisi cuaca yang tidak diprediksi sebelumnya, akhirnya berakibat fatal: pesawat menghantam tebing. Pesawat terlempar atau terdorong oleh angin samping dari sisi gunung Salak yang selalu berubah-ubah setiap saat dan membuat pesawat melenceng dari jalur yang telah ditetapkan. Meskipun pada awalnya rute tetap normal, namun berubah secara perlahan akibat adanya angin dari arah antara selatan dan membuat pesawat melenceng dari jalur dan mendekati puncak gunung Salak.

Tapi dengan kondisi seperti itu pasti warning alarm di cockpit akan berbunyi dan pilot akan dapat mengantisipasinya. Dalam komunikasi via radio terakhir, atau 20 menit setelah lepas landas, pilot meminta izin kepada menara Bandara Soekarno Hatta untuk menurunkan ketinggian dari 10.000 ribu kaki (3.000 meter) menjadi 6.000 ribu kaki (1.800 meter). Bisa jadi, seperti disebutkan oleh pihak LAPAN, pilot bermaksud menghindari awan cumulo nimbus. Pilot pun memilih menukik ke bawah dan mendekati puncak gunung untuk menghindari awan tebal itu yang disebut cumulo nimbus.

Mestinya, warning alarm pada cockpit berbunyi. Tapi entah mengapa diabaikan pilot. Sangat mungkin sang pilot ingin show skill dan show performs pesawat canggih ini dengan melakukan gerakan menanjak ke atas puncak gunung Salak dengan melipir tebing gunung. Namun karena adanya angin dari arah kiri dan kanan, atau terdorong angin dari arah belakang, membuat pesawat sulit bergerak ke atas. Pesawat tidak lagi memiliki dorongan mesin yang normal (lost power) untuk menanjak dan ke puncak Gunung Salak. Akhirnya pesawat membentur tebing jurang.

Minim Persiapan

Dari kubu Rusia berkembang pandangan lain. Menurut analisa para pakar di Rusia, pesawat Superjet, atau secara resmi disebut 'Sukhoi Superjet 100' adalah pesawat penumpang satu-satunya yang dirancang dan dibangun di Federasi Rusia. Semua penerbangan Rusia lain dirancang sebelum jatuhnya Uni Soviet. Pemerintah Rusia ingin sekali menunjukkan bukti bangkitnya industry penerbangan Rusia yang terganggu menyusul hancurnya Uni Soviet. Memang para pakar mengkritik pesawat itu terkait sejumlah masalah kecil. Toh, sejauh ini tidak pernah ada yang meragukan keselamatan atau fungsi pesawat itu. Keprihatinan utama adalah bahwa Superjet itu memerlukan landasan yang telah disiapkan dengan benar, yang hanya tersedia sedikit di Rusia.

Pesawat baru ini melakukan penerbangan perdana bulan April 2011. Sejak itu, Sukhoi Superjet hanya mengalami sejumlah masalah kecil, dan semuanya terkait dengan alat pendaratan. Nah, sebelum jatuh berkeping-keping, Sukhoi komersial itu menjalani tur keliling Asia. Tur promosi Superjet ini adalah yang pertama dengan pilot profesional dan berpengalaman. Disebutkan dalam tur itu bahwa kemampuan para awak Sukhoi selalu diandalkan dan hanya sedikit yang meragukan. Tak pelak, kecelakaan di Bogor menjadi pukulan psikologis yang telak bagi keseluruhan industry penerbangan Rusia.

Sejauh ini memang belum diketahui penyebab kecelakaan Sukhoi di Gunung Salak. Namun Mogomed Tolboev, salah seorang pilot terbang demo terbaik di Rusia, meyakini bahwa kecelakaan di Bogor itu lantaran kurang persiapan penerbangan. "Terbang demo itu dilakukan di kawasan pegunungan yang sangat sulit," katanya kepada media Rusia. Ia membandingkan kecelakaan Superjet dengan kecelakaan dengan korban tim aerobotik Rusia yang disebut 'Ksatria Rusia'.

Pada tahun 1995, tiga jet tempur dari unit ini kembali dari air show di Malaysia. Mereka merencanakan untuk mendarat di Vietnam, di pangkalan militer Rusia di sana, dan jatuh di kawasan pegunungan. Pada saat itu, penyelidikan menunjukkan kecelakaan terjadi karena buruknya persiapan penerbangan. Menurut Mogomed, bisa jadi, kali ini juga disebabkan oleh hal yang sama.

Kesalahan Pilot?

Sementara itu, harian terkemuka Rusia Izvestia pada Jumat (11/5/2012) mengungkap kesimpulan sementara dari sebuah ujicoba menggunakan simulator pesawat sejenis di pusat pelatihan pilot di Zhukovsky, tak jauh dari Moskow. Hasil dari ujicoba tersebut menduga sistem peringatan kondisi area penerbangan atau Terrain Awareness and Warning System (TAWS) yang terpasang di kokpit Sukhoi Superjet 100 harusnya memberikan peringatan atau informasi kepada pilot. Sistem ini otomatis bekerja mendeteksi kondisi geografis yang mungkin menjadi rintangan dalam sebuah penerbangan Sukhoi SJ 100 tersebut. "Anda tidak bisa mengabaikan sinyal peringatan. Jika bahaya terjadi, sistem akan menampilkan pesan peringatan," ujar salah seorang sumber yang tak disebutkan namanya.

Menurut sumber tersebut, selain indikator dalam bentuk lampu merah peringatan, isyarat juga keluar dengan pesan suara. "Selain itu, sistem secara otomatis dapat mengintervensi untuk mencegah pesawat dari tabrakan," tambahnya. Sumber tersebut menduga pilot pesawat telah mematikan sistem peringatan saat musibah terjadi untuk berbicara dengan para penumpang.
Sementara ahli lain dari pusat pelatihan pilot tersebut memperkirakan, bisa jadi pilot tidak memperhatikan sistem peringatan yang selalu menyala di aeal perbukitan. Namun demikian, tidak semua ahli sepakat dengan kesimpulan ujicoba pada simulator ini. Seorang pakar keselamatan penerbangan lainnya mengatakan, uji coba pada simulator tidak bisa memberikan gambaran keseluruhan peristiwa tragis tersebut. "Pengujian dengan pesawat sesungguhnya hanya mungkin dilakukan setelah penemuan dan penguraian data rekaman penerbangan pesawat tersebut," ungkap pakar dari Pusat Penelitian Penerbangan Sipil Rusia itu, seperti ditulis kantor berita Prime News.

Sementara pakar lainnya sepakat mengenai Sistem Peringatan jalur penerbangan menjadi titik kritis dalam kasus ini. "Ada tiga kemungkinan, pertama (sistem) tersebut tidak bekerja, kedua (sistem) tersebut dimatikan atau mereka (pilot dan co pilot) tidak memperhatikannya, dan ketiga (sistem) tersebut memberikan indikasi yang keliru," ujarnya.

Sebelumnya, indikasi human error ini pertamakali disebutkan oleh Wakil Perdana Menteri Rusia Dmitry Rogozin, Kamis (10/5/2010) lalu. Pendapat Rogozin ini berdasar keterangan ahli setempat mengenai musabab musibah itu.

Apapun analisa yang berkembang, kunci jawabannya ada pada data penerbangan yang tersimpan pada Black Box pesawat. Ini menjadi tantangan untuk mengungkap misteri jatuhnya Sukhoi, tanpa diembel-embeli kata kira-kira, kemungkinan, boleh jadi, kurang lebih, jangan-jangan, dan sederet ungkapan lain pertanda ketidak pastian.

www.gatra.com

Rabu, 16 Mei 2012

Meskipun Terjadi Insiden, Sky Aviation Tetap Pesan Sukhoi Superjet 100

Sukhoi Superjet 100
Sky Tak Batalkan Pesanan Shukoi

Sky Aviation menegaskan mereka tidak menunda atau membatalkan pemesanan atas 12 unit pesawat berpenumpang maksimal 100 orang, Sukhoi Superjet 100. Tambahan jumlah pesawat kelas sedang itu dibutuhkan, untuk menopang rencana ekspansi maskapai penerbangan ini. Demikian ditegaskan General Manager Pemasaran Sky Aviation, Sutito Zainuddin, di Jakarta, Selasa (15/5/2012). "MoU (nota kesepahaman) yang kami buat beberapa tahun lalu masih berlaku hingga saat ini," tuturnya.

Menurut Sutito, penambahan pesawat itu diperlukan untuk menghubungkan kota-kota besar di beberapa provinsi, terutama dengan Jakarta. Itu akan meningkatkan daya angkut Sky Aviation. "Untuk tujuan itu, sangat cocok untuk menggunakan pesawat dengan jumlah kursi hingga 100. Mengingat panjang landasan pacu yang terbatas di daerah," ujarnya.

Tanpa tambahan pesawat kelas menengah itu, daya tembus Sky Aviation hanya terbatas pada pengangkutan jarak pendek antar kabupaten. "Sekarang, dari Natuna ke Jakarta harus menunggu pesawat lain di Batam. Nanti di Batam sudah tersedia pesawat kami, sehingga penumpang tidak perlu menunggu lama," ujar Sutito.

bisniskeuangan.kompas.com

Tim SAR Temukan Black Box Pesawat Sukhoi Superjet 100

Lokasi Jatuh Sukhoi Superjet 100
Kotak hitam ditemukan 100 meter dari ekor pesawat

Kotak hitam pesawat Sukhoi Superjet 100 yang jatuh di hutan Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, ditemukan di lokasi yang berjarak sekitar 100 meter dari tempat penemuan ekor pesawat. "Memang benar kotak hitam sudah ditemukan oleh anggota tim Kopasus dan Federasi Panjat Tebing Indonesia yang melakukan pencarian. Kotak ini ditemukan berjarak 100 meter dari posisi ekor pesawat," kata Komandan Korem 061/Suryakancana, Kol Inf AM Putranto, saat dihubungi, Selasa malam.

Danrem menyebutkan, kotak hitam tersebut diterima dari anggota SAR sekitar pukul 21.30 WIB. Awalnya Danrem belum bisa memastikan bahwa yang ditemukan itu adalah kotak hitam pesawat Sukhoi. Danrem baru bisa memastikan penemuan black box itu setelah hasil pemeriksaan perwakilan dari Komite Keselamatan Transportasi (KNKT) membenarkan bahwa yang ditemukan anggota tim charly (C) tersebut adalah kotak hitam Sukhoi Superjet 100.

Danrem menyebutkan, meski kotak hitam telah ditemukan operasi evakuasi masih terus dilanjutkan mengingat saat ini masih ada anggota SAR yang berada di atas. "Operasi masih lanjut, karena saat ini ada beberapa kantung jenazah yang akan dievakuasi dari atas menuju halim," katanya.

Kotak hitam ditemukan oleh Lettu Inf Taufik dari Kopasus Selasa pagi sekitar pukul 10.00 WIB. Kotak tersebut diserahkan kepada Danrem sekitar pukul 21.00 WIB di posko kendali utama evakuasi korban di Balai Embrio Ternak, Cipelang, Bogor. Rencananya kotak hitam akan dikirim ke Bandara Halim Perdanakusumah Rabu (16/5), dan diserahkan secara resmi kepada KNKT untuk invetigasi.

www.antaranews.com

Jumat, 11 Mei 2012

Boeing Ikut Serta Merancang Pesawat Sukhoi Superjet 100

Sukhoi Superjet 100
Inilah Kisah Di Balik Pembuatan Pesawat Sukhoi Superjet 100

Sukhoi Superjet 100 merupakan pesawat penumpang untuk jarak tempuh menengah yang dirancang sejak 2000. Superjet 100 menjadi pesawat penumpang pertama sejak keruntuhan Uni Soviet dan juga merupakan pesawat sipil pertama buatan Sukhoi yang terkenal dengan jet tempurnya. Menurut kantor berita RIA Novosti, biro rancang pesawat itu bermitra dengan berbagai pihak asing dalam pengembangan Superjet 100, termasuk Boeing, dimana sejumlah ahlinya turut serta dalam merancang pesawat tersebut.

Sejumlah pihak asing yang juga mengerjakan Superjet 100 antara lain perusahaan asal Italia Finnmeccanica yang menjadi investor terbesar, perusahaan asal Prancis Snecma untuk mesin dan perusahaan Thales untuk perangkat avionik. Selain itu, firma asal Jerman Liebherr turut dalam pengerjaan sistem pengendalian dan sistem penunjang kehidupan pesawat Superjet 100.

Program pesawat ini sempat tertinggal, karena penundaan pengembangan mesin serta sertifikasi. Superjet 100 melakukan terbang perdana pada 2008 dan mendapat sertifikasi untuk beroperasi di Rusia pada 2011 dan di Uni Eropa pada Februari 2012.

Mesin ganda Superjet 100 --yang bisa memuat 100 penumpang-- memiliki kecepatan jelajah 828 kilometer per jam dengan jarak jelajah maksimum antara 3.000 hingga 4.500 kilometer dengan muatan penuh, tergantung kapasitas tempat duduk.

Pesawat tersebut dibuat dengan tujuan untuk menggantikan pesawat Tupolev Tu-134 dan Yakovlev Yak-42 dan bersaing dengan pesawat penumpang dari perusahaan asal Brasil Embraer E-Jets dan perusahaan asal Kanada Bombardier CRJ. Pesawat ini menawarkan alternatif yang lebih murah dari pesawat besutan perusahaan Brasil dan Kanada itu. Harga superjet Rusia ini dibanderol US$35 juta per unit. Pesawat tersebut terjual secara lambat, tetapi berkesinambungan di pasar yang amat berkompetisi, dimana Maskapai Aeroflot asal Rusia mengoperasikan tujuh unit dan maskapai asal Armenia, yaitu Armavia sebanyak satu unit.

Menurut kabar tidak ada satu pun maskapai yang menghentikan pengoperasian Sukhoi Superjet 100 pascaterjadinya kecelakaan pesawat sejenis di Indonesia pada 9 Mei 2012.

Sebelum kecelakaan terjadi, Sukhoi mendapat pesanan Superjet 100 sebanyak 100 unit, termasuk dari maskapai Rusia Transaero. Hingga berita diturunkan, belum ada konfirmasi apakah sejumlah konsumen berniat menarik pesanan mereka.

www.bisnis.com