Cari di Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label DIRGANTARA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DIRGANTARA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Februari 2016

E-Fan 2.0, Pesawat Terbang Bertenaga Listrik Buatan Prancis

E-Fan 2.0 adalah pesawat terbang bertenaga listrik yang telah dirancang dan dikembangkan oleh pabrikan pesawat Airbus Group dari Prancis. Prototipe pesawat ini hanya mampu mengangkut 2 orang, yaitu pilot dan ko-pilot. Meskipun demikian, E-Fan 2.0 yang telah berhasil terbang melintasi Selat Inggris ini merupakan pesawat terbang generasi baru yang bebas suara berisik dan bebas emisi karbon.

E-Fan 2.0. ZonaAero
E-Fan 2.0.
Ini Dia Pesawat Bertenaga Listrik Rancangan Prancis.

Memproduksi dan menjual pesawat terbang yang tidak mengeluarkan suara yang berisik dan juga tidak melepaskan emisi karbon di udara saat terbang menjadi keinginan pabrikan pesawat Airbus Group. Dan keinginan itu tak lama lagi akan segera direalisasikan. Airbus telah berhasil membuat prototipe pesawat bertenaga listrik yang diberi nama E-Fan 2.0 dan pesawat ini telah berhasil menjalani uji coba dengan terbang dari Lydd di Inggris dan menyeberangi Selat Inggris lalu mendarat di Calais, Prancis. Uji coba penerbangan pesawat bertenaga listrik E-Fan 2.0 ini menempuh jarak 563 kilometer selama satu jam penerbangan. "Prototipe pesawat ini membalikkan prestasi bersejarah Louis Bleriot," kata Kepala Teknologi Airbus Group, Jean Botti, kepada Flight Global. Pesawat ringan ini baru pada tahap untuk latihan terbang dan hanya mampu memuat dua orang, satu pilot dan ko-pilot.

Airbus hendak meniru semangat sejarah perancang dan penerbang pertama Prancis, Louis Bleriot (1872-1936), yang berhasil menerbangkan pesawat untuk pertama kalinya melintasi Selat Inggris pada 1909. Berkat penerbangan bersejarah ini, Bleriot meraih hadiah 1.000 pound sterling.

E-Fan 2.0 pernah diterbangkan dalam perhelatan Paris Air Show di Le Bourget, 15-21 Juni 2015. Selama pameran, E-Fan 2.0 diterbangkan berulang-ulang untuk menunjukkan kehebatan pesawat dari pabrikan Prancis itu.

Produksi versi 2.0 akan dirakit di Pau Pyrenees Airport di barat daya Prancis, yang dikenal sebagai Lembah Aerospace. "Ini akan menjadi pabrik masa depan," kata Jean Botti. Harga jual seri ini berkisar 150 ribu sampai 200 ribu, sekitar dua pertiga harga pesawat bermesin piston berukuran sama.

Menurut Kepala Desainer E-Fan Bruno Saint-Jalmes, manajemen sistem listrik dilakukan penuh oleh sistem digital (e-FADEC) untuk mengurangi beban kerja pilot.

Sampai saat ini E-Fan menggunakan baterai litium polimer. Tapi insinyur Airbus kini telah menginstal baterai lebih berat dengan sistem baterai litium ion padat. Penambahan baterai seberat 30 kg telah memaksa insinyur E-Fan menghapus sebagian beban berat dari pesawat. Tapi instalasi tambahan ini mampu menyediakan daya 160 W per kg, bandingkan dengan 100 W per kg jika menggunakan sistem baterai litium polimer.

Mulai 2017 pesawat ringan ini akan diproduksi untuk memenuhi permintaan pasar. Setidaknya dalam setahun akan diproduksi 10 unit. Seri 4.0, yang bisa memuat empat orang, akan dikembangkan dua tahun berikutnya.

Airbus bermimpi, pada 2050 pesawat listrik buatannya mampu memuat 90 orang untuk penerbangan regional jarak pendek. "Kami tidak berbicara tentang sebuah pabrik raksasa," kata Jean Botti kepada ShowNews. "Ini adalah cara baru terbang."

Airbus menyatakan penerbangan bertenaga listrik mungkin satu-satunya cara untuk memenuhi target Uni Eropa pada 2050 yang bertekad mengurangi emisi karbon dari penerbangan sebesar 75 persen dan tingkat kebisingan 65 persen dari level yang ditetapkan pada 2000.

tekno.tempo.co

Jumat, 06 Maret 2015

Beriev Be-200 Altair, Pesawat Amfibi Multiguna Buatan Rusia

Beriev Be-200 Altair adalah pesawat amfibi multiguna yang dirancang oleh Beriev Aircraft Company dan diproduksi oleh perusahaan Irkut. Pesawat ini dirancang untuk pemadam kebakaran, pencarian dan penyelamatan, patroli maritim, pengangkut kargo, dan transportasi penumpang. Sebagai sarana pemadam kebakaran, pesawat amfibi Beriev Be-200 Altair memiliki kapasitas mengangkut air sebanyak 12 ton, dan sebagai pesawat transportasi penumpang, pesawat ini memiliki kapasitas hingga 72 penumpang.
Pada tahun 2001, sebagai bagian dari program pemasaran, Be-200 ditampilkan di dua pameran besar di kawasan Samudera Pasifik; Maritim Internasional dan Aerospace Exhibition LIMA'01 di Malaysia dan Korea Aerospace dan Pertahanan Pameran KADE'01 di Korea Selatan. Pada tahun 2002, Be-200 berpartisipasi dalam pameran penerbangan internasional, berhasil menunjukkan kemampuannya untuk pelanggan potensial di Perancis dan Yunani dengan penerbangan 15 demonstrasi yang terbuat dari tanah, delapan dari air. Sebanyak lebih dari 7.600 km diterbangkan di seluruh Eropa. Irkut dan EADS menandatangani nota kesepahaman Mei 2002 untuk bersama-sama melakukan studi pasar dan untuk menentukan kondisi dan biaya sertifikasi internasional dan logistik menyiapkan layanan purna jual di seluruh dunia. Studi ini selesai pada Juli 2003, mengungkapkan pasar potensial hingga 320 pesawat lebih dari 20 tahun. Kedua perusahaan, dengan Rolls-Royce Deutschland, berencana untuk memperoleh sertifikasi Barat selama 2008/9 dan menawarkan Rolls-Royce BR715 pesawat bertenaga untuk pasar Barat. Versi ini harus diberi sebutan Be-200RR. Asli Be-200 prototipe (RF-21511) telah disiapkan untuk dikonversi menjadi prototipe Be-200RR. Pesawat produksi pertama, Be-200ES terbang pada tanggal 17 Juni 2003. Hal itu disampaikan ke EMERCOM pada tanggal 31 Juli 2003. Pesawat Tujuh telah diperintahkan oleh EMERCOM, lima telah disampaikan. Badan pesawat kelima yang digunakan untuk proses sertifikasi Eropa yang diperkirakan akan selesai pada tahun 2008. EASA akhirnya bersertifikat Be200ES-E pada 7 September 2010. Dua sisanya dijadwalkan untuk pengiriman pada akhir 2008. EMERCOM memiliki opsi untuk membeli lebih 8 Be-200s, dengan keputusan yang diharapkan selama bagian akhir tahun 2008. Pada tahun 2010, produksi Be-200 adalah karena beralih ke Pusat kompetensi untuk pesawat amfibi dan kapal terbang di Taganrog. Jalur perakitan sedang menyiapkan menggunakan perkakas dan peralatan yang diterima dari lokasi pabrik utama Irkut di Irkutsk, Siberia. Hal ini akan memungkinkan Irkut Corporation untuk berkonsentrasi pada proyek-proyek yang lebih menguntungkan lainnya. Produksi Be-200 akan tetap berada di bawah payung United Aircraft Corporation. Multirole Be-200 dapat dikonfigurasi sebagai penurunan air pemadam kebakaran pesawat amfibi, kapal barang, atau sebagai pesawat-penumpang transportasi memungkinkan bertekanan dan AC kabin hingga 72 penumpang. The Be-200 juga dapat dilengkapi untuk misi khusus. Ketika dikonfigurasi sebagai ambulans udara, pesawat dapat membawa sampai 30 pasien tandu dan tujuh pasien duduk yang atau kru medis. Dalam pencarian dan penyelamatan peran, pesawat dapat dilengkapi dengan sorot dan sensor, perahu karet, sistem pengawasan thermal dan optik, dan peralatan medis. Pencarian dan penyelamatan varian dapat menampung hingga 45 orang. Pesawat ini juga mampu menjadi dikonfigurasi untuk tugas perang anti-kapal selam. The Be-200 pemadam kebakaran menekan kebakaran dengan menjatuhkan air dan / atau kimia retardants. Delapan tangki air paduan aluminium besi yang terletak di bawah lantai kabin di bagian tengah pesawat. Empat sendok air ditarik, dua depan dan dua belakang dari langkah pesawat dapat digunakan untuk meraup total 12 ton air di 14 detik. Atau, tank dapat diisi dari hidran atau tadah air di tanah. Tangki air dapat dihapus dengan cepat untuk membawa kargo. Air dapat dijatuhkan dalam salvo tunggal, atau hingga delapan tetes berturut-turut. Pesawat ini juga membawa enam tangki tambahan untuk bahan kimia api perlambatan, dengan total kapasitas 1,2 m³. Pesawat ini dapat mengosongkan tangki airnya di atas tempat api di 0,8-1,0 detik ketika terbang di atas kecepatan penurunan minimal 220 km / h (135 mph, 120 kn). Pesawat ini didukung oleh dua mesin D-436TP tiang-mount. D-436TP adalah "maritim" versi D-436 tiga poros mesin turbofan, dirancang khusus untuk Be-200 amfibi, oleh Ivchenko Kemajuan ZMKB dan diproduksi oleh "motor sich" di Ukraina tertentu tahan korosi. Ini dipasang di atas polong wingroot pada fairings landing gear untuk mencegah air penyemprotan ke dalam mesin saat lepas landas dan mendarat. Digital Flight Control (Fly-by-wire) kokpit dilengkapi dengan sistem navigasi modern seperti navigasi satelit (GPS), FMS, autopilot dan radar cuaca. The ARIA 200-M sistem avionik segala cuaca terintegrasi yang dikembangkan oleh Honeywell dengan Moskow Lembaga Penelitian Pesawat Equipment, menggunakan enam 152 x 203 mm (6 x 8 in) LCD untuk menampilkan informasi kepada awak dua orang. The Be-200 adalah sayap-tinggi-T ekor monoplane. lambung adalah desain langkah dengan rasio panjang-to-balok tinggi, yang memberikan kontribusi untuk stabilitas dan pengendalian di dalam air. Be-200 badan pesawat yang terbuat dari paduan aluminium dengan perawatan korosi perlindungan. Penggunaan selektif terbuat dari titanium, komposit dan bahan korosi bebas lainnya. Sayap dilengkapi dengan mengapung underwing stabilizer. The hidrolik dioperasikan pendaratan ditarik unit gigi semua menarik ke belakang, dan masing-masing unit twin-roda. Sebuah kemudi air menyediakan kemudi dalam air. Be-200 dapat beroperasi baik dari 1.800 m runway panjang atau luas perairan terbuka tidak kurang dari 2.300 m panjang dan 2,5 m dalam, dengan gelombang hingga 1,3 m.

Beriev Be-200 Altair (Gambar 1). ZonaAero
Beriev Be-200 Altair (Gambar 1).

Beriev Be-200 Altair (Gambar 2). ZonaAero
Gambar 2.

Beriev Be-200 Altair (Gambar 3). ZonaAero
Gambar 3.

Beriev Be-200 Altair (Gambar 4). ZonaAero
Gambar 4.

Beriev Be-200 Altair (Gambar 5). ZonaAero
Gambar 5.
Pesawat Amfibi Beriev Be-200 Altair.

Nama Altair di belakang nama Beriev Be-200 adalah singkatan dari beberapa hal yang berkaitan dengan proses perancangan pesawat ini, yaitu "Al" adalah bagian pertama dari nama Albatross, pesawat amfibi yang menjadi model dasar rancangan Beriev Be-200 ini dan punya nama lengkap Beriev A-40 Albatross, Dan "ta" singkatan Taganrog, nama tempat perusahaan Beriev didirikan, selanjutnya "ir" adalah singkatan dari Irkutsk.

Beriev Be-200 Altair dirancang oleh Beriev Aviation Company, dengan Russian Irkutsk Aircraft Production Association (sekarang bagian dari Irkut Corporation). Beriev bertanggung jawab untuk pengembangan, desain dan dokumentasi; systems, static, penerbangan dan pengujian prototipe; sertifikasi dan dukungan dari model produksi. Tugas Irkut terdiri persiapan produksi; pembuatan perkakas; produksi empat prototipe dan pesawat produksi; dan suku cadang manufaktur. Kedua perusahaan kini berada di bawah payung milik negara, United Aircraft Corporation.

Desain pesawat ini mulai dirancang pada tahun 1989 di bawah kepemimpinan Alexander Yavkin. Lalu pemerintah Rusia memberikan persetujuan untuk perancangan pesawat pengebom air ini pada tanggal 8 Desember 1990. Rincian proyek diumumkan, dan model yang ditampilkan di ajang dirgantara Paris Air Show pada tahun 1991.

Beriev mengembangkan peralatan pemadam kebakaran yang unik untuk Be-200, yang memungkinkan untuk mengambil air dengan cara membenamkan sebagian lambung bawah pesawat di permukaan air danau atau kawasan perairan luas pada 90-95% dari kecepatan lepas landas.

Awalnya, penerbangan perdana prototipe pertama pesawat amfibi Beriev Be-200 Altair dijadwalkan pada tahun 1997, namun baru dapat dilaksanakan pada tanggal 24 September 1998. Pesawat kemudian dipindahkan dari Irkutsk ke Taganrog setelah 26½ jam terbang. Sementara uji coba lepas landas dan mendarat di atas permukaan air dilakukan pada tanggal 10 September 1999 di Taganrog. Prototipe pesawat Beriev Be-200 Altair diterbangkan pada 27 Agustus 2002. Pesawat ini dibangun dengan nama Be-200ES yang dibuat untuk Kementerian Situasi Darurat Rusia.

Varian pesawat amfibi Beriev Be-200 Altair :
  • Be-200 : Model dasar dari jenis pesawat ini
  • Be-200ChS atau Be-200ES : Diproduksi untuk kebutuhan Kementerian Situasi Darurat Rusia
  • Be-200E : Ini varian Be-200ES, tapi semua instrumen dan petunjuk pada kokpit menggunakan bahasa Inggris
  • Be-200RR : Varian dengan menggunakan mesin Rolls-Royce
  • Be-210 : Varian pesawat penumpang
  • Be-220 : Varian patroli maritim.
Spesifikasi pesawat amfibi Beriev Be-200 Altair :
  • Kru : 2
  • Panjang : 32 m
  • Lebar sayap : 32,8 m
  • Tinggi : 8,9 m
  • Luas Area Sayap : 117,4 m²
  • Berat kosong : 27.600 kg
  • Berat Maksimum Lepas Landas (Tanah) : 41.000 kg
  • Berat Maksimum Lepas Landas (Air) : 37.900 kg
  • Kapasitas Maksimum Pengangkutan Air atau Retardant : 12.000 kg
  • Kapasitas Maksimum Pengangkutan Kargo : 7.500 kg
  • Kapasitas Penumpang : 44 penumpang (Be-200ES) dan 72 penumpang (Be-210)
  • Powerplant : 2 unit mesin turbofan Progress D-436TP, masing-masing berkekuatan 7.500 kgf
Kinerja :
  • Kecepatan Maksimum : 700 km/jam
  • Kecepatan Jelajah : 560 km/jam
  • Kecepatan Ekonomis : 550 km/jam
  • Kecepatan Pendaratan : 200 km/jam
  • Kecepatan Lepas Landas : 220 km/jam
  • Kecepatan Minimum (Flaps 38°) : 157 km/jam
  • Jangkauan Terbang : 2.100 km (1.305 mil)
  • Jangkauan Terbang Terjauh (Satu Jam Cadangan) : 3.300 km (2.051 mil)
  • Batas Optimum Ketinggian Penerbangan : 8.000 m
wikipedia.org

Sabtu, 25 Januari 2014

Aeromobile, Mobil Terbang Tercantik Dan Terbaik

Aeromobile, Mobil Terbang Tercantik Dan Terbaik. Aeromobile adalah kendaraan terbang yang memadukan fungsi mobil dan pesawat terbang. Mobil terbang ini merupakan hasil rancangan Stefan Klein, seorang insinyur dari Austria. Ketika terbang di udara, Aeromobile mampu melaju dengan kecepatan 100km/jam dan dan daya tempuh yang mencapai jarak 700 kilometer. Konsumsi bahan bakar saat digunakan untuk terbang adalah 15 liter/jam.
Aeromobile. ZonaAero
Mobil terbang mengudara di Slowakia

Desain ruang untuk sebuah mesin yang dapat bangun dari tempat parkir standar spot, membentangkan sepasang sayap, dan melemparkan dirinya ke udara telah dieksplorasi secara menyeluruh sebagai apapun. Stefan Klein, seorang insinyur dari Austria, telah bekerja pada mesin tersebut selama 20 tahun terakhir. Konsep terbarunya, AeroMobile 2.5, memiliki beberapa spesifikasi yang mengesankan, dan tampaknya memiliki sedikit kesulitan mendapatkan udara. Pertanyaan yang terlintas dalam pikiran ketika menonton rekaman prototipe adalah - dapat itu tinggal di sana? Dalam jumlah yang sangat bulat, mobil drive- fly minimal (atau pesawat udara roadable, seperti beberapa orang bilang) mungkin menimbang kering pada 1000 pound. Setidaknya 100 tenaga kuda diperlukan untuk membawa cukup tinggi bahan bakar untuk terbang ke 500 mil pada 100 mph. Angka-angka ini mencerminkan baik persyaratan perizinan untuk kerajinan olahraga ringan, dan parameter sederhana mencerminkan misi berskala manusia yang khas. AeroMobile tetap cukup dekat dengan amplop ini sementara beberapa desain lain seperti Terrafugia pergi sedikit lebih besar, dengan daya dukung ekstra dan kemudahan. Dengan asumsi angka kami hanya diletakkan, pertimbangan utama secara tradisional cara menyelundup sayap. The AeroMobile mengambil pendekatan kunang-kunang, sederhana berputar mereka belakang, setelah lipat selama flaps. Metode ini memiliki daya tarik sederhana jika dibandingkan dengan Terrafugia, yang malah runtuh nya gaya akordeon sayap dan harus memperkenalkan titik potensi kegagalan seluruh rentang mereka. Kedua desain ini akan tampak lebih baik untuk meragukan Goodyear Inflatoplane, yang sudah lama menghilang dari diskusi sopan. Untuk beberapa alasan, desain kartun favorit - teleskop sayap yang hanya dapat diekstrusi keluar dari tubuh - belum direalisasikan. Kita sebut kendaraan seperti ini CAD mobil, karena mereka kemungkinan besar akan hanya pernah benar-benar ada di CAD ( seperti yang digambarkan di bawah). Banyak dari desain futuristik memiliki alat peraga menyalurkan, sangat mirip dengan jetpack Martin. Empat - prop ( quadcopter ) desain, bahkan mereka di mana roda miring ke bawah dan berubah menjadi penggemar, masih bencana kontrol. Secara teori, jika bantalan dalam satu prop merebut, Anda bisa berjalan di tiga, tapi itu bukan sesuatu yang Anda ingin menguji. Jika Anda khawatir tentang keamanan, Anda mungkin akan ingin menyimpan sayap, bahkan jika terlihat seperti angin sedikit bisa mengubah kerajinan Anda terbalik. Klein tidak hanya membangun mesinnya untuk kesenangan pribadi sendiri, ia memiliki niat penuh membawanya ke pasar yang lebih besar. Dia mengharapkan beberapa tahun lagi untuk menyelesaikan proses sertifikasi dan untuk masuk ke produksi. Hal ini tidak akan menjadi kerajinan untuk mendapatkan diri Anda keluar dari kemacetan lalu lintas. Take- off, dan jika hal-hal berjalan dengan baik, pendaratan, masih akan kebandarudaraan. Bicara dari bandara membawa sebuah titik praktis yang penting tentang mesin : desain Klein menggunakan mesin pesawat berpendingin air Rotax 912, yang ringan dan kuat, tetapi dapat dijalankan pada standar bensin tanpa timbal. Dalam beberapa kali pesawat dan mesin otomotif telah berkumpul untuk desain yang sama dekat - optimal. Mesin pesawat biasanya lebih mahal, memiliki persyaratan bahan bakar khusus dan toleransi, dan dapat diharapkan untuk dapat dijalankan pada full - throttle terus menerus dalam operasi yang khas. Persyaratan torsi juga sangat berbeda untuk roda dan alat peraga. Stein menggunakan dua hubungan yang terpisah drive, satu untuk roda depan, dan satu untuk prop belakang, dan dua roda kemudi di dalam taksi. Secara keseluruhan konsep tampaknya sangat baik dipikirkan dan dieksekusi. Jika dia hanya bisa mendapatkan hidung untuk menunjukkan secara terus menerus dalam arah yang sama dengan kerajinan adalah pos, desain mungkin menjadi pilihan yang menarik bagi mereka serius mempertimbangkan untuk mendapatkan sebuah mobil terbang.
Mobil terbang terwujud di Slowakia dari seorang insinyur Stefan Klein. Menurut Klein, dia terinspirasi oleh buku impian tentang terbang karya penulis Prancis Jules Verne dan Antoine de Saint Exupery. "Saya mendapat gagasan untuk mulai menggarap kendaraan masa depan di universitas," kata Klein kepada AFP. "Terbang ada di dalam darah saya -- kakek dan ayah saya penerbang pesawat ringan dan saya punya surat izin terbang saat belum cukup umur untuk SIM mobil," kata Klein yang merancang mobil bagi BMW, VW dan Audi serta kini mengajar di Bratislawa, akademi Seni dan desain.

Kendaraannya, Aeromobile, punya panjang enam meter dan muat untuk berhenti di tempat parkir atau garasi rumah maupun SPBU. Bila berada di lapangan udara, kendaraan itu mengeluarkan sayap lipat dalam beberapa detik dan berubah menjadi sebuah pesawat.

Aeromobile (Gambar 2). ZonaAero
Flying, majalah penerbangan Amerika Serikat dan laman web bidang inovasi inhabitat.com menyebut Aeromobile sebagai kendaraan terbang tercantik dan terbaik. Saat mengudara, top speednya 100km/jam dan daya tempuhnya 700 km dengan konsumsi BBM 15 liter/jam. "Sejauh ini ada sekitar 20 usaha untuk menciptakan mobil terbang di seluruh dunia. Di antaranya, Aeromobile yang paling nyata. Pengemudi atau pilotnya harus memiliki SIM dan izin terbang, setidaknya dengan 25 jam terbang," kata Ketua Federasi Penerbangan Pesawat Ringan Slowakia, Milan Ciba kepada AFP.

Sebagai seorang pilot juga, Klein tetap bersahaja mengenai kendaraan masa depan ini. "Kami tidak berharap aeromobile ini diproduksi secara massal, hanya akan menjadi alat trassportasi alternatif," kata Kelin.

Mobil terbang ini akan lepas landas dengan izin terbang pesawat ringan.

otomotif.antaranews.com

Kamis, 02 Januari 2014

1 Januari 2014, Satu Abad Era Penerbangan Komersial

1 Januari 2014, Satu Abad Era Penerbangan Komersial. Usia satu abad sejarah penerbangan komersial dimulai dari kota Tampa, Florida, menuju kota St. Petersburg di Amerika Serikat. Penerbangan komersia yang pertama dalam sejarah ini dilakukan dengan menggunakan pesawat terbang Benoist XIV, sebuah pesawat amfibi yang lepas landas dan mendarat di atas permukaan air. Penerbangan ini melintasi Teluk Tampa di AS.
Penerbangan Komersial. ZonaAero
100 Tahun Penerbangan Komersial Pertama

Jutaan orang naik pesawat terbang setiap hari, mengeluhkan ruang kaki dan kabin yang sempit. Banyak penumpang menyepelekan kenyataan bahwa mereka dapat bepergian ribuan kilometer hanya dalam beberapa jam.

Hari Rabu, 1 Januari 2014, menandai 100 tahun penerbangan komersial pertama: Penerbangan selama 23 menit menyeberangi Teluk Tampa di Florida. Penerbangan tersebut disubsidi pemerintah kota untuk mendorong jumlah turis pada musim dingin. Alternatifnya: Perjalanan kereta selama 11 jam dari Tampa ke St. Petersburg, Florida.

Sejumlah pemain papan atas memberi prediksi mereka terkait masa depan dunia penerbangan. CEO Delta Air Lines Richard Anderson, CEO Southwest Airlines Gary Kelly, dan CEO Allegiant Travel Co. Maurice J. Gallagher, Jr. memberikan perkiraan mereka untuk 5 tahun ke depan. "Kita akan mempunyai lebih sedikit maskapai penerbangan, tapi mereka akan lebih besar, lebih kuat dan lebih sehat," kata Kelly.

Gallagher, Jr. menilai, "Lima tahun mendatang akan lebih kepada meningkatkan otomatisasi dan mengurangi biaya tenaga kerja. Industri ini sudah memberlakukan mobile boarding pass, pengedropan bagasi, dan bahkan boarding sendiri. Proses-proses semacam ini akan semakin lazim dan mengurangi secara signifikan jumlah pekerja yang berinteraksi dengan konsumen."

"Mulai dari lebih seabad yang lalu, maskapai sibuk membeli setiap pesawat berkapasitas 50 penumpang yang tersedia," ujar Anderson. "Tapi penggunaan pesawat-pesawat jet kecil tersebut hingga kini pasang surut. Dalam 5 tahun ke depan, jumlahnya akan terus menyusut di Amerika Serikat."

Seperempat abad mendatang

Presiden Virgin Atlantic Airways Sir Richard Branson, CEO Hawaiian Airlines Mark Dunkerley, dan CEO Etihad Airways James Hogan berbagi pendapat mereka mengenai apa yang mungkin terjadi pada dunia aviasi dalam 25 tahun mendatang.

Hogan memprediksi, "Sebuah generasi baru maskapai penerbangan yang memiliki visi dan keinginan untuk menjadi berbeda, akan berhasil dalam memotong biaya, meningkatkan produktivitas dan menemukan cara-cara terjangkau untuk mengakses pasar-pasar baru. Timur Tengah, Afrika dan Asia Tenggara akan menjadi pasar yang matang."

"Saya yakin saya akan sempat merasakan terbang dari London ke Sydney hanya di bawah 2 jam, dengan dampak lingkungan sekecil mungkin," ungkap Branson.

Pandangan Dunkerley tidak begitu menggembirakan: "Banyak penumpang yang sekarang bisa terbang, nantinya tidak akan mampu lagi terbang. Warisan yang menyedihkan dari 30 tahun kemajuan besar dalam demokratisasi perjalanan udara. Kegagalan untuk berinvestasi pada infrastruktur aviasi dan nafsu yang tak pernah terpuaskan akan regulasi tidak akan diimbangi oleh kemajuan yang relatif sederhana dalam efisiensi pesawat terbang."

Prediksi satu abad ke depan

CEO Frontier Airlines David Siegel, CEO American Airlines Doug Parker, dan CEO Spirit Airlines Ben Baldanza mengutarakan pendapat mereka mengenai prediksi dunia penerbangan komersial untuk 100 tahun ke depan.

"Teknologi 'put me there' keluarga Google yang dimasukkan ke dalam peranti lunak peta mereka akan membuat semua maskapai penerbangan gulung tikar," papar Baldanza.

"Penerbangan komersial pertama hanya 29 kilometer jauhnya, lihat sudah sejauh apa kita sekarang. Mungkin di masa depan akan muncul desain sistem propulsi tercanggih," ramal Siegel. "Kita dapat melihat inovasi desain pesawat terbang, transportasi udara di tingkat komunitas dengan pesawat yang lebih kecil dan jauh lebih efisien, dan mungkin pesawat komersial tanpa pilot."

Parker mengatakan, "Saya cukup yakin bahwa pilot penerbangan komersial pertama, Tony Jannus, tidak dapat membayangkan skala dan betapa pentingnya penerbangan komersial pada zaman sekarang, atau dampaknya dalam mengubah dunia. Seperti halnya saya tidak dapat membayangkan penerbangan komersial pada tahun 2114. Tapi bagaimana pun itu keadaannya, yang pasti, perkembangan yang terus terjadi akan menjadi kunci penting dalam kisah yang membangun dunia penerbangan nanti."

www.dw.de

Rabu, 03 Juli 2013

Pesawat Buatan PT Dirgantara Indonesia Laris Manis Di Pasar Kawasan Asia-Pasifik

Informasi Penerbangan: Beberapa jenis pesawat terbang yang diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia telah dipesan oleh sejumlah negara di kawasan Asia-Pasifik. Tercatat bahwa negara-negara Filipina, Thailand, dan Malaysia telah menandatangani kontrak pembelian pesawat terbang dari PT Dirgantara Indonesia.
CN-235 PT Dirgantara Indonesia. ZonaAero
Pesawat Made in Bandung Laris Dibeli Timor Leste, Malaysia Hingga Madagaskar

BUMN produsen pesawat terbang asal Bandung, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) gencar menggarap pasar di Asia Pasifik. Sejumlah kontrak pembuatan pesawat NC212, CN-235 dan CN-295 akan diteken tahun ini dengan Filipina, Thailand, dan Malaysia. Hal itu disampaikan Manajer Pemasaran PT DI, Teguh Graito di Kantor PT DI, Jalan Pajajaran, Bandung, Selasa (2/7/2013). Ia menuturkan, pasar Asia Pasifik menjadi salah satu pasar yang fokus digarap PT DI karena jarak yang lebih dekat dan hubungan diplomatik yang baik. "Di wilayah Asia Pasifik, kita punya sejarah yang kuat. Hanya sedikit produsen pesawat terbang di Asia," ujar Teguh.

Berdasarkan market studi bersama Airbus Military (CASA), kebutuhan pesawat terbang kelas NC212 di Asia Pasifik sekitar 100 unit, CN-235 sekitar 75 unit dan CN 295 sekitar 75 unit. Dengan market studi yang ada, PT DI pun melakukan penetrasi dengan melakukan market survei secara langsung untuk mengetahui indikasi kebutuhan yang sebenarnya.

Teguh menyebutkan khusus untuk NC212 sejumlah negara saat ini tengah intens komunikasi untuk melakukan kerjasama. Kebutuhan NC212 diantaranya 2 unit untuk Air Force Filipina, sebanyak 6-8 unit untuk Ministry of Agriculture and Cooperatives (MoAC) Thailand, 6 unit untuk Myanmar Airforce, 2 unit untuk Nepal Army, 2 unit untuk Papua Nugini, 2 unit untuk Timor Leste Air Force, 2 unit untuk Biman Airlines Bangladesh dan 2 unit untuk Air Madagaskar. "Untuk Thailand, dari kebutuhan 6-8 unit, mereka menginginkan pengiriman 1 setiap tahun. Kita sudah mengerjakan 1 tahun 2012 lalu, harapannya, tahun ini akan ada kontrak lagi," katanya.

Sementara untuk CN-235 PT DI tengah intens berkomunikasi dengan sejumlah negara seperti Filipina, Malaysia, Brunai Darusalam, Thailand dan Myanmar. "Malaysia berencana mengkonversi 3 unit CN-235 nya menjadi maritim patrol. Selain itu Filipina juga diharapkan akan kontrak dengan kami tahun ini," tutur Teguh.

finance.detik.com

Minggu, 30 Juni 2013

Lapan Surveillance Aircraft (LSA), Pesawat Penginderaan Jarak Jauh Buatan LAPAN

Informasi Penerbangan: Lapan Surveillance Aircraft (LSA) adalah model pesawat penginderaan jarak jauh (pengamat) yang dikembangkan oleh LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Dalam pembuatan pesawat pengamat canggih ini, LAPAN telah bekerjasama dengan Universitas Berlin. Lapan Surveillance Aircraft (LSA) diawaki oleh dua orang, memiliki jarak jangkau terbang hingga 1.300 km, mampu mengudara hingga pada ketinggian 7.500 meter, dan memiliki kecepatan 220 km/jam.
Lapan Surveillance Aircraft (LSA). ZonaAero
Pesawat Pengamat Persembahan Lapan

Indonesia melalui Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) bersama Universitas Berlin di Jerman mengembangkan pesawat pengamat bernama Lapan Surveillance Aircraft (LSA). Konsep ini sebenarnya telah dibuat sejak 2011, tapi baru terealisasi pada 2012 dengan menggandeng Universitas Berlin sebagai mitra kerja sama. "Sampai saat ini ada enam orang ahli teknik kita yang berada di Jerman untuk terus melakukan riset, perancangan modifikasi, desain, pengujian, serta teknologi terhadap pesawat surveillance. Sedangkan untuk penerbangan resmi perdana LSA akan dilakukan akhir 2013 ini," ungkap Kepala Pusat Teknologi Penerbangan Lapan Rika Andiarti.

Program LSA ini memiliki beberapa misi di antaranya akurasi citra satelit, verifikasi dan validasi citra satelit, monitoring produksi pertanian, aerial photogrammetry, pemantauan, pemetaan banjir, deteksi kebakaran, search and rescue (SAR), pemantauan perbatasan dan kehutanan, serta pemetaan tata kota. Selain itu, LSA ini juga mampu mengakurasikan data dari foto citra satelit dengan resolusi tinggi yang telah digabung dengan satelitsatelit lain, mampu mengkroscek langsung di lapangan secara acak ketika terkadang satelit biasanya suka terhalang awan. LSA ini berbasis pesawat Icon 5 Amphibius dengan memiliki daya terbang 8—24 jam, mampu mencapai ketinggian maksimal 7,5 km dan kecepatan jelajah 220 km/jam serta jarak tempuh maksimal 1.300 km. Pesawat ini membutuhkan landasan dengan panjang minimal 300 m untuk take off dan landing. Pesawat ini memiliki total panjang mencapai 8,52 m dengan tinggi 2,45 m dengan lebar rentang lebar sayap sepanjang 18 m. Sedangkan resolusi gambar yang dihasilkan nanti mencapai hingga 50 cm dengan muatan hingga 70 kg.

Sebagai pesawat utilitas dengan dua kapasitas tempat duduk, badan pesawat komposit dengan mesin tunggal ini dilengkapi motor glider dan operasi aturan instrumen penerbangan (IFR). LSA ini pesawat dengan mesin tunggal dan jenis mesin yang digunakan adalah Rotax 914 F2/15 dengan tenaga mesin (MTOP) 115 HP. Tangki bahan bakar LSA berkapasitas 130 liter dan jenis bahan bakar yang digunakan adalah Avgas 100LL/Mogas.

Pesawat ini juga dilengkapi Propeler MTV-7-A/170- 051 serta 1,75 untuk diameter propeler dengan tiga bladed. Pesawat pengamat ini juga dilengkapi turbo charge dengan silinder pendingin udara dan kepala silinder pendingin air, karburator, kontrol pembuangan limbah otomatis, dan pengapian elektronik ganda. Daya tampung pesawat ini mencapai maksimal 20 kg serta 80 kg beban muatan dengan MTOW 1.300 kg.

Di bawah sayap pesawat sepanjang 18 m itu terselip kamera metrik berkalibrasi dengan areal kamera mount, sebuah kamera yang secara nyata dapat memonitor melalui lintas udara dengan sensor optik yang dikembangkan dengan system wide angle dan menghasilkan gambar beresolusi tinggi. "LSA merupakan pesawat ringan dengan teknologi yang dikombinasikan dengan aero dynamic serta engine dan sayap yang tentunya dapat mengangkat pesawat dengan stabil dan kamera canggih beresolusi tinggi," papar Staf Ahli Kementerian Negara Riset dan Teknologi Bidang Hankam Teguh Rahardjo.

Teknologi canggih yang dipakai dalam pesawat LSA ini sebenarnya pengembangan dari pesawat Lapan Surveillance UAV (LSU), yang merupakan pesawat tanpa awak. Pesawat ini memiliki dua tipe yakni LSU 01 dan LSU 02. Pesawat yang terbuat dari sterofoam dan telah dipakai pada ketinggian 3.300 m saat letusan gunung merapi dan banjir beberapa waktu lalu ini berguna untuk verifikasi data satelit. "Menariknya, ini proses pembelajaran bagi LAPAN untuk membangun pesawat dengan cara bertahap sehingga diharapkan kita akan mampu membuat pesawat sendiri tanpa bergantung negara lain," ucap Teguh.

www.koran-sindo.com

Selasa, 25 Juni 2013

Pesawat UAV Dan Prototipe Mobil Terbang Buatan Dalam Negeri Akan Dipamerkan Pada Hari Kebangkitan Teknologi Nasional

Informasi Penerbangan: Pesawat UAV Dan Prototipe Mobil Terbang Buatan Dalam Negeri Akan Dipamerkan Pada Hari Kebangkitan Teknologi Nasional yang jatuh pada tanggal 10 Agustus 2013. Beberapa produk dirgantara berteknologi canggih yang akan dipamerkan diantaranya adalah pesawat UAV Alap-alap, Sriti, Wulung, Hexator, dan Flying Car.
Hexarotor ITB. ZonaAero
Pesawat Tanpa Awak Dominasi Harteknas 2013

Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas), Kemenristek menggelar pameran teknologi industri. Harteknas jatuh pada tanggal 10 Agustus mendatang. Pameran ini didominasi pesawat tanpa awak buatan dalam negeri. Seperti Hexator, Flying Car, Alap-alap, Sriti dan Wulung. Hexarotor terbuat dari bahan carbon fiber. Pesawat buatan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini terdiri dari tiga tipe. Tipe kecil berbentuk persegi dengan ukuran 15 cm x 15 cm, dilengkapi dengan 4 baling-baling kecil. Sementara tipe sedang berbentuk persegi dengan ukuran 60 cm x 60 cm dan dilengkapi dengan 6 baling-baling kecil. Sedangkan Hexarotor besar berbentuk persegi dengan ukuran 1 m x 1 m serta dilengkapi 8 baling-baling kecil. "Setiap Hexarotor juga dilengkapi dengan kamera. Kameranya bisa diganti sesuai kebutuhan," ujar staff Center of Unmanned System Institut Teknologi Bandung, Yudhoyono Kartijo yang kerap disapa Gembong, Senin (24/6/2013).

Menurut Gembong, alat yang diproduksi oleh ITB sejak 2 tahun lalu ini biasanya digunakan sebagai surveyor atau untuk pemantauan dan pengamatan. "Misalnya perusahaan real estate ingin memantau dari atas," imbuh Gembong.

Hexarotor diterbangkan dengan menggunakan remote control. Pesawat ini mampu terbang maksimal setinggi 170 m, dengan waktu terbang maksimal 20 menit. Hexarotor juga bisa digunakan untuk memantau kemacetan dan kebanjiran di kota. Selain buatan ITB, Harteknas juga memamerkan pesawat buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), yaitu Sriti, Alap-alap, dan Wulung. Ketiga pesawat merupakan jenis Pesawat Udara Nir Awak (PUNA).

Sriti atau short range unmanned aerial vehicle, mampu mengangkat berat maksimal 9,5 kg. Dengan bentuk membulat dan dilengkapi dua sayap besar, Sriti mampu terbang selama 2 jam di udara dengan kecepatan 65 knots. "Pesawat Sriti belum bisa diterbangkan dengan menggunakan landasan, dia masih pakai catapult (pelontar)," ujar anggota Pusat Teknologi Industri Hankam, Samudro.

Jenis pesawat yang berukuran sedang, Alap-alap atau long range unmanned aerial vehicle, memiliki bentuk yang sedikit lebih memanjang dibandingkan dengan Sriti. Alap-alap memiliki tipe sayap high wing dan memiliki bobot maksimal yang lebih besar daripada Sriti, yaitu 22 kg. Pesawat ini mampu terbang selama 8 jam di udara dengan kecepatan 65 knots.

Pesawat tanpa awak paling besar, Wulung, bentuknya sudah menyerupai bentuk pesawat dengan awak pada umumnya. Serupa dengan Alap-alap, pesawat Wulung juga memiliki tipe sayap high wing. Wulung mampu membawa bobot maksimal hingga 120 kg. Meskipun begitu, Wulung hanya mampu berada di udara lebih kurang selama 4 jam dengan kecepatan 67 knots. Ketiga jenis pesawat ini menggunakan bahan komposit dan dikontrol dengan suatu sistem yang disebut sebagai ground system.

news.detik.com

Senin, 24 Juni 2013

LSU 02, Pesawat UAV Canggih Karya Ilmuwan LAPAN

Informasi Penerbangan: LSU 02, Pesawat UAV Canggih Karya Ilmuwan LAPAN. Pesawat LSU 02 merupakan hasil penelitian dan pengembangan Pusat Teknologi Penerbangan Lapan. Pesawat UAV yang telah melakukan berbagai misi ini mampu terbang secara autonomous dengan jangkauan terbang hingga 300 kilometer. Kinerja terbang pesawat tanpa awak yang sering menjadi ukuran yaitu kemampuan jangkauan terbang (long distance), kemampuan lama terbang (long endurance), kemampuan terbang secara automatis (autonomous flying), dan kemampuan take off dan landing. Kemampuan tersebut juga menyangkut aspek inovasi aircraft (desain pesawat terbang), propulsi, avionik, dan aerodinamika.
LSU 02, LAPAN Surveillence UAV. ZonaAero
LSU02 Pesawat tanpa Awak Karya Anak Indonesia

Ilmuwan Indonesia di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) berhasil membuat pesawat tanpa awak. Pesawat yang dinamai LSU 02 ini mampu beroperasi jarak jauh. Negara-negara Asia Tenggara hanya mampu membeli pesawat serupa dengan harga fantastis. Tapi Indonesia patut berbangga karena warganya mampu memproduksi sendiri.

Pesawat tanpa awak buatan peneliti LAPAN mampu menjelajah langit dengan kecepatan 100 kilometer per jam serta menempuh jarak 200 kilometer pulang-pergi. LSU 02 yang dengan berat 3 kilogram ini pernah digunakan dalam pemetaan lahan pertanian, banjir Jakarta hingga memotret kawah Gunung Merapi,serta digunakan sebagai pemantau keamanan wilayah.

Saat ini keberadaan pesawat tanpa awak menjadi sangat penting bagi sebuah negara terutama sebagai fungsi pertahanan. Teknologi pesawat nirawak selama ini hanya menjadi dominansi negara-negara adidaya seperti Amerika, Inggris dan beberapa negara Eeropa lainnya.

Tidak ada satu negara pun yang mau berbaik hati membagi pengetahuannya dalam pengembangan pesawat tanpa awak. Alasannya, teknologi pesawat tanpa awak sangat ampuh dan digdagya dalam menjalankan perannya sebagai mesin perang seperti yang digunakan Amerika dengan pesawat dronenya. Namun, kita tidak perlu khawatir karena telah mampu membuat pesawat tanpa awak yang multifungsi serta kelak bisa diandalkan untuk menjaga keutuhan wilayah Indonesia.

www.metrotvnews.com

Senin, 14 Januari 2013

Teknologi Antariksa China, Dari Satelit Bumi Hingga Pesawat Luar Angkasa

Perkembangan teknologi antariksa yang sudah diraih dan dikuasai China cukup fenomal. Secara mandiri China mampu menguasai teknologi perjalanan ruang angkasa. 60 tahun sebelumnya, bisa dikatakan China mustahil melakukan itu semua, terlebih begitu sedikitnya warga negara China saat itu yang mengabdikan diri pada riset ilmu pengetahuan dan teknologi, tercatat kurang dari 500 orang di seluruh negeri tirai bambu itu. Namun berkat kemauan keras dan ketekunan serta dukungan politik penuh, kini China mampu berdiri sama gagahnya dengan Amerika Serikat dan Rusia yang telah terlebih dulu mengeksplorasi angkasa luar.
Peluncuran roket antariksa China
Peluncuran roket antariksa China
Perkembangan Industri Penerbangan dan Antariksa China

Teknologi antariksa berawak adalah teknologi terpadu dengan 7 sistem, antara lain roket, pesawat antariksa, pengukuran dan pengontrolan serta telekomunikasi, sekaligus juga merupakan proyek yang paling rumit, paling berbahaya dan berskala terbesar di dunia dewasa ini. Wakil Komando Umum Proyek Antariksa Berawak China Zhang Jianqi mengatakan, bila tidak terdapat iptek dan kemampuan riset ilmiah yang sangat maju, bergerak di luar kabin pesawat antariksa tidak mungkin terwujud.

Tapi, semua itu merupakan hanya impian saja bagi orang China pada 60 tahun silam. Saat itu, China tidak hanya tidak memiliki roket pembawa pesawat antariksa, tapi juga tidak memiliki barisan tenaga iptek yang mampu bersaing secara internasional, semua tenaga yang mengabdikan diri pada riset iptek di seluruh negeri hanya tercatat kurang dari 500 orang.

Pada masa awal berdiri RRT, pemerintah mengutamakan pengembangan industri iptek dengan menyusun program pengembangan iptek jangka panjang. Pada tahun 1964, China berhasil mengadakan peledakan bom atom pertama yang mengejutkan dunia. 3 tahun kemudian, tahun 1967, bom hidrogen pertama di China berhasil diledakkan. Pada tahun 1970, satelit bumi buatan China pertama yaitu Dongfanghong 1 berhasil diluncurkan ke antariksa. "dua bom dan satu satelit" itu tidak saja meningkatkan kekuatan iptek dan pertahanan China, serta meletakkan kedudukan penting China di arena internasional, tapi juga menyediakan prasyarat teknologi dan tenaga terampil bagi usaha penerbangan dan antariksa.

Penanggung jawab terkait Kementerian Iptek China Mei Yonghong mengatakan: "Iptek China sudah berkembang sampai tingkat tertentu, kami sudah memiliki sistem bidang ilmu yang lengkap. Selain itu, kami sudah memiliki sumber tenaga iptek yang kaya, termasuk tenaga riset dan pengembangan. Semua itu sudah menempati kedudukan terdepan di dunia."

Sejak tahun 1978, China mulai melaksanakan kebijakan reformasi dan keterbukaan terhadap dunia luar. Sejak itu, China mulai mempraktekkan pikiran strategis "Iptek adalah tenaga produktif pertama" dan mulai aktif mengorganisasi pelaksanaan sejumlah proyek iptek. Oleh karena itu, dalam puluhan tahun saja, usaha iptek China telah mencapai kemajuan luar biasa dan kekuatan iptek melonjak. Penduduk China menikmati sepenuhnya perubahan kehidupan sangat besar yang didatangkan hasil iptek, sementara juga merasa bangga karena kemajuan iptek China.

Proyek antariksa berawak dihidupkan secara resmi sejak awal 1990-an. Sebelum tugas antariksa berawak dilaksanakan untuk pertama kali, China secara mandiri meneliti, mengembangkan dan meluncurkan lebih dari 50 satelit bumi buatan dalam 15 bentuk. Selain itu, China juga secara mandiri meneliti dan mengembangkan belasan jenis serian roket pembawa "Longmatch" dengan membawa 70 lebih satelit domestik dan asing ke angkasa.

Pada Oktober 2003, China untuk pertama kali melakukan penerbangan antariksa berawak, Astronot Yang Liwei berhasil menumpang pesawat antariksa terbang di antariksa selama 21 jam. Pada tahun 2005, dua astronot China berhasil terbang di antariksa selama 5 hari. Pada September 2008, 3 astronot China dengan menumpang Pesawat Antariksa Shenzhou 7 terbang selama hampir 3 hari di antariksa. Selama penerbangan itu, Astronot Zhai Zhigang melakukan perjalanan untuk pertama kali bagi orang China di angkasa.

Bersamaan dengan itu, sorotan mata orang China diarahkan ke bulan yang lebih jauh lagi. Pada Oktober 2007, satelit eksploitasi bulan China pertama, Chang`e 1 berhasil diluncurkan. Satu tahun kemudian, Chang`e 1 berhasil menyelesaikan berbagai tugas eksploitasi yang ditetapkan semula. Pendesain Umum Proyek Eksploitasi Bulan China Sun Jiazhong mengatakan: "Sebelumnya, semua kegiatan antariksa China pada pokoknya dilakukan di angkasa dekat bumi, yaitu angkasa yang berjarak hanya dalam puluhan ribu kilometer dari bumi saja. Setelah kami menguasai teknologi antariksa yang tertentu, kami selayaknya akan mengekploitasi ke angkasa yang lebih jauh lagi, dan pos pertama adalah bulan."

Sementara itu, proyek penelitian dan pengembangan pesawat ukuran besar yang ditinggal selama bertahun-tahun akhirnya diterima baik pemerintah pada tahun 2007. Insinyur senior PT Perseroaan Industri Teknologi Penerbangan China Gan Liwei mengatakan, China berpengharapan memiliki pesawat ukuran besar buatan sendiri pada tahun 2020.

Pendesain Umum Pesawat Antariksa Shenzhou 7 Zhou Jianping mengatakan, impian terbang ke angkasa orang China baru saja mengayunkan langkah pertama, serta mendorong usaha penerbangan dan antariksa China meningkat ke taraf baru.

indonesian.cri.cn

Sabtu, 05 Januari 2013

N-219, Pesawat Angkut Rancangan PT Dirgantara Indonesia

N-219
N-219 adalah jenis pesawat multi fungsi bermesin dua yang saat ini tengah dirancang dan dikembangkan oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Pesawat ini didesain untuk dapat dioperasikan di daerah-daerah terpencil. Sebagian besar badan N-219 ini terbuat dari logam dan dirancang untuk mengangkut penumpang maupun kargo. Pesawat yang dibuat dengan memenuhi persyaratan FAR 23 ini dirancang memiliki volume kabin terbesar di kelasnya dan pintu fleksibel yang memastikan bahwa pesawat ini bisa dipakai untuk mengangkut penumpang dan juga kargo.

Sebelum memasuki tahap produksi, PT DI terlebih dahulu akan membuat dua unit purwarupa N-219 untuk menjalani uji terbang serta satu unit purwarupa untuk tes statis pada tahun 2012. Program pembuatan purwarupa sendiri direncanakan memakan waktu selama dua tahun dengan pengalokasian dana yang dibutuhkan sebesar Rp 300 miliar.

N-219 melakukan uji terbang di laboratorium uji terowongan angin pada bulan Maret 2010. Pesawat N219 baru akan bisa diserahkan kepada pemesan pertamanya untuk diterbangkan sekitar 2014-2015. N-219 ini merupakan pengembangan dari NC-212 yang sudah diproduksi oleh PT DI dibawah lisensi CASA.
Desain N-219
Fitur Utama Pesawat N-219
  • Fungi : angkut penumpang dan kargo (Multi fungsi, dapat dikonfigurasi ulang)
  • Kapasitas : 19 Penumpang (konfigurasi tiga sejajar)
  • Kinerja lepas landas dan mendarat : jarak pendek/STOL (600 m)
  • Biaya operasional : rendah
  • Mesin : 2 unit 850 shp
Kinerja Pesawat N-219
  • Kecepatan jelajah maksimum : 395 km / jam (213 KTS)
  • Kecepatan jelajah ekonomis : 352 km / jam (190 KTS)
  • Rata rata feri Maksimum : 1.580 Nm
  • jarak lepas landas (halangan 35 kaki) : 465 m, ISA, SL
  • jarak mendarat (halangan 50 kaki) : 510 m, ISA, SL
  • Kecepatan jatuh (stall) : 73 KTS
  • Berat lepas landas maksimum (MTOW) : 7.270 kg (16,000 lbs)
  • Muatan Maksimum : 2.500 kg (5,511 lb)
  • Tingkat panjat : 2.300 kaki / menit (semua mesin operasi)
  • Jarak: 600 Nm
Wikipedia.org

Senin, 31 Desember 2012

Concorde, Pesawat Terbang Penumpang Berkecepatan Supersonik Pertama Di Dunia

Concorde atau yang punya nama lengkap Aérospatiale-BAC Concorde adalah pesawat terbang penumpang berkecepatan supersonik yang pertama di dunia. Pesawat terbang Concorde menjadi satu-satunya pesawat terbang penumpang yang menggunakan afterburner pada mesin jetnya. Namun karena kecelakaan fatal yang dialaminya dan mahalnya biaya operasionalnya, maka Concorde tidak lagi dioperasikan oleh British Airways dan Air France sejak tahun 2003. Hanya kedua maskapai penerbangan tersebut yang pernah mengoperasikan pesawat penumpang berkecepatan supersonik ini.

Concorde (Gambar 1). ZonaAero
Concorde (Gambar 1).

Concorde (Gambar 2). ZonaAero
Gambar 2.

Concorde (Gambar 3). ZonaAero
Gambar 3.

Concorde (Gambar 4). ZonaAero
Gambar 4.

Concorde (Gambar 5). ZonaAero
Gambar 5.
Aérospatiale-BAC Concorde adalah sebuah pesawat terbang supersonik yang merupakan satu dari dua jenis pesawat penumpang supersonik yang pernah melayani jalur transportasi secara komersial. Pesawat supersonik lainnya tersebut adalah Tupolev Tu-144 milik Rusia yang juga ditengarai adalah hasil spionase dari Concorde.

Concorde memiliki kecepatan jelajah 2,04 Mach (kecepatan suara) dan ketinggian terbang hingga 60.000 kaki (17.700 meter) dengan konfigurasi sayap delta dan evolusi mesin yang dilengkapi dengan mesin jet afterburner awalnya dikembangkan untuk pesawat pengebom strategis (bomber) Avro Vulcan. Penerbangan komersial yang dioperasikan oleh British Airways dan Air France ini dimulai pada 21 Januari 1976 dan berakhir pada 24 Oktober 2003, dengan penerbangan terakhir pada 26 November tahun yang sama.

Salah satu hal unik dari pesawat ini adalah bagian hidungnya yang dapat dibengkokkan. Sekilas pembengkokkan hidung Concorde hanya seperti aksesoris saja. Namun ternyata, penekukan hidung ini (sudut penekukannya 12,5 derajat hingga 30 derajat) perlu dilakukan saat hendak mendarat agar hidung Concorde tidak menghalangi pandangan pilot ke arah landasan lapangan terbang dibawah.

Concorde pernah mengalami kecelakaan pada 25 Juli 2000. Hal itu membuat orang-orang menyadari rentannya pesawat supersonik. Akhirnya, ditambah dengan mahalnya biaya operasional, sejak tahun 2003 pesawat Concorde tidak terbang lagi dan kedua maskapai yang mengoperasikannya (Air France dan British Airways) memensiunkan pesawat ini dari jajaran armadanya dan mengakhiri era penerbangan supersonik.

Selama 20 tahun pertama penerbangan komersialnya, Concorde mengangkut 3,7 juta penumpang. Jam terbang ke-13 pesawat Concorde sekarang sudah lebih dari 200.000 jam terbang. Dari jumlah itu, 140.000 jam di antaranya adalah 140.000 jam terbang di atas kecepatan suara. Pesawat ini juga mampu membawa 144 penumpang dengan kecepatan 2,04 mach (2.200 kilometer per jam) pada ketinggian 60.000 kaki. Itu artinya kecepatan Concorde 2 kalinya kecepatan suara, yakni 1.200 km/jam. Dengan kecepatan luar biasa ini, Concorde hanya membutuhkan waktu 2 setengah jam dari Paris ke New York. Padahal, rata-rata pesawat biasa menempuh jarak tersebut harus membutuhkan waktu lebih dari 7 jam.

Ketika menembus kecepatan suara, Concorde akan mengeluarkan suara menggelegar yang disebut Sonic Boom. Jika terjadi di atas daratan yang penuh dengan perumahan, pengaruh sonic boom dapat memecahkan kaca-kaca jendela rumah! Makanya, Concorde hanya diperbolehkan terbang dengan kecepatan luar biasa tersebut ketika sudah berada di atas Samudera Atlantik. Saat Concorde masih terbang di atas daratan Eropa dan Amerika, Concorde melaju dengan menggunakan kecepatan pesawat biasa, yaitu 600 km/jam.

Concorde mengalami 1 kecelakaan yang sangat fatal, yakni Air France Penerbangan 4590. Penerbanagan ini adalah penerbangan terjadwal khusus Concorde yang melakukan penerbangan dari bandara internasional Charles de Gaulle Paris, Perancis menuju New York,Amerika Serikat. Menurut NTSB,kecelakaan ini disebabkan ban pecah.

Spesifikasi Pesawat Terbang Supersonik Concorde

Karakteristik Umum :
  • Crew: 3 (2 orang Pilots dan 1 orang teknisi)
  • Kapasitas Penumpang : 92 – 120 orang
  • Panjang : 61,66 m
  • Lebar Bentangan Sayap : 25,6 m
  • Tinggi : 12,2 m
  • Luas Area Sayap : 358,25 m2
  • Berat Kosong : 78.700 kg
  • Berat Terisi : 111.130 kg
  • Mesin Pendorong : 4 unit Rolls-Royce/SNECMA Olympus 593 Mk 610 afterburning turbojet
Kinerja :
  • Kecepatan Maksimum : Mach 2,04 (2.179 km/jam)
  • Kecepatan Jelajah : Mach 2,02 (2.158 km/jam)
  • Jarak Jangkau Terbang : 7.250 km
  • Batas Ketinggian Penerbangan : 18.300 m
  • Kecepatan Panjat : 25,41 m/detik
  • Rasion Dorongan Dan Berat : 0,373
Wikipedia.org

Beriev Be-2500 Neptun, Pesawat Terbang Raksasa Masa Depan

Beriev Be-2500 Neptun
Beriev Be-2500 Neptun. ZonaAero | Beriev Be-2500 Neptun, Pesawat Terbang Raksasa Masa Depan.
Beriev Be-2500 Neptun bisa menjadi pesawat terbang berukuran paling besar di dunia jika rancangannya berhasil direalisasikan oleh para teknisi Beriev Aircraft Company, pabrikan yang mengkhususkan diri dalam pembuatan pesawat terbang amphibi di Rusia. Sosok besar dari Be-2500 akan membuat A380, pesawat terbang terbesar saat ini, seperti anak kecil yang berdiri di samping orang dewasa. Pesawat terbang Be-2500 memiliki panjang hampir dua kali panjang badan A380 buatan Airbus dari negara Perancis itu.

Beriev Be-2500 Neptun merupakan pesawat amphibi (hydroplanes) yang bisa take-off dan landing di permukaan air maupun landasan pesawat terbang konvensional. Saat ini pesawat terbang super besar tersebut masih dalam taraf pengembangan. Kendala yang sangat penting adalah pada penyediaan mesin yang bisa menerbangkan pesawat dengan beban lepas landas hingga 2.500 ton dan payload hingga 1.000 ton. Untuk pesawat seperti itu paling tidak membutuhkan mesin yang memiliki daya dorong hingga 100 ton. Mesin terbesar saat ini adalah buatan General Electric dengan daya dorong 56 ton.

Pesawat terbang Be-2500 akan digerakkan oleh 6 unit mesin. 4 unit dipasang pada bagian atas Canard dan 2 unit mesin lainnya terpasang pada bagian atas sayap belakang. Penempatan posisi mesin seperti itu akan memberikan efek bantalan udara pada badan pesawat. Meskipun konsep Be-2500 seperti sebuah pesawat ekranoplan, tapi pesawat terbang ini dirancang untuk dapat terbang hingga ketinggian 10 kilometer.

Karena dirancang dengan ukuran badan yang sangat besar dan kemampuan yang lebih dari daya dorong mesin yang dibutuhkan, membuat biaya perancangannya juga menjadi sangat besar. Menurut perhitungan, dibutuhkan dana 10 hingga 15 miliar Dollar AS untuk dapat merealisasikan rancangan pesawat super besar ini. Oleh karena itu, proyek Be-2500 membutuhkan kerjasama internasional untuk dapat mengumpulkan kebutuhan dana sebesar itu.

Spesifikasi Pesawat Beriev Be-2500 Neptun

Karakteristik Umum :
  • Crew : ≥2
  • Panjang : 123 m
  • Lebar Bentangan Sayap : 156 m
  • Tinggi : 29,12 m
  • Luas Area Sayap : 3.428 m²
  • Berat Kosong : 1.500.000 kg
  • Maksimum Berat Lepas-Landas : 2.500.000 kg
  • Mesin Pendorong : 6 unit Kuznetsov NK-116 turbofan
Kinerja :
  • Kecepatan Maksimum :
    • Pada Ketinggian 10.000 m : 800 km/jam (430 knot, 500 mph)
    • Diatas Permukaan Laut (Ground Effect) : 450 km/jam (240 knot, 280 mph)
  • Jangkauan Penerbangan :
    • Pada Ketinggian 10.000 m : 17.000 km (9.200 nmi, 10.580 mi)
    • Diatas Permukaan Laut (Ground Effect) : 10.700 km (5.780 nmi, 6.650 mi)
  • Maksimum Daya Angkat Sayap : 730 kg/m²
  • Minimal Rasio Dorongan/Berat : 0.025
wikipedia.org, beriev.com, globalsecurity.org

Minggu, 23 Desember 2012

PAL-V, Kendaraan Terbang Perpaduan Mobil Dan Helikopter

PAL-V Mobil Helikopter
PAL-V, Kendaraan Terbang Perpaduan Mobil Dan Helikopter

Para peminat dunia penerbangan mungkin sudah banyak tahu tentang Terrafugia Transition, mobil terbang yang konon kabarnya sudah siap untuk dipasarkan. Ternyata bukan Terrafugia Transition saja sebagai satu-satunya mobil terbang yang sudah berhasil melakukan uji penerbangan dan siap diproduksi secara komersial. Sebuah perusahaan yang berkedudukan di Belanda, PAL-V Europe, juga sudah berhasil melakukan uji coba penerbangan pada sebuah prototipe mobil terbang rancangannya. Nama mobil terbang itu pun mirip dengan nama perusahaan pembuatnya, PAL-V, yang merupakan singkatan dari Personal Air and Land Vehicle.

Jika Terrafugia Transition merupakan konsep kendaraan yang memadukan mobil dan pesawat terbang, maka PAL-V adalah perpaduan mobil dan helikopter. Prototipe PAL-V sudah mulai dikembangkan sejak 2004 lalu. Perancangan berhasil diselesaikan pada tahun 2008. Dan pada bulan Maret 2012 lalu, PAL-V berhasil melakukan serangkaian uji coba penerbangan.

Rancangan asli PAL-V menggunakan bahan bakar bensin untuk menggerakkan mesinnya yang berkekuatan 160 kW. Tapi kabarnya ada beberapa prototipe yang menggunakan biodiesel dan bioethanol. Pada saat terbang, PAL-V mampu melesat hingga kecepatan 180 km/jam. Sebagai mobil, kendaraan ini digerakkan oleh tiga roda. Dan sebagai sebuah helikopter, PAL-V menggunakan dua bilah baling-baling untuk menghasilkan daya angkat.

Jika pengendara akan mengubah fungsi dari mobil menjadi pesawat terbang, maka kendaraan PAL-V harus berhenti dulu. Kendaraan ini tidak dilengkapi mekanisme proses transformasi otomatis. Ekor yang yang memang sudah terpasang distel lagi agar menjadi lebih panjang, lalu rotor yang terlipat harus dibuka dulu. Proses ini bisa dilakukan dalam waktu kurang dari 10 menit.

PAL-V dirancang untuk operasional penerbangan dibawah ketinggian 1.200 meter. Kabarnya kendaraan jenis ini bisa terbang di kawasan udara banyak negara tanpa perlu mengajukan permohonan izin jadwal penerbangan terlebih dahulu. PAL-V Europe mengatakan bahwa pemerintah AS dan Eropa tengah melakukan penelitian pengembangan jalan tol digital yang menggunakan GPS untuk memberikan jalur penerbangan yang aman bagi kendaraan terbang sejenis PAL-V.

Pada modus terbang, PAL-V menggunakan prinsip terbang kendaraan Gyrocopter. Rotornya berputar dengan gerakan yang lebih lambat jika dibandingkan dengan putaran rotor helikopter. Ini memberikan kemampuan pada PAL-V untuk melakukan lepas landas dan mendarat dengan kecepatan rendah. Keuntungan lainnya, PAL-V tidak akan terhempas jatuh jika tiba-tiba mesin mati mendadak. Rotor akan tetap berputar sehingga kendaraan bisa mendarat tanpa menghempas tanah.

PAL-V memiliki dimensi dengan panjang 4 meter, lebar 1,6 meter, dan tinggi 1,6 meter. Mampu terbang dengan bobot hingga 910 kg. Berat kendaraan ini 680 kg, sehingga PAL-V mampu terbang dengan membawa beban 230 kg. Perusahaan pembuatnya mengatakan bahwa kalangan penegak hukum, militer, dan kalangan medis sudah menyatakan berminat pada produk kendaraan ini.

www.gizmag.com

Video Mobil Terbang PAL-V :

viedo PAL-V | ZonaAero

Sabtu, 22 Desember 2012

Roket Soyuz TMA-07M Meluncur Menuju Stasiun Antariksa Internasional (ISS)

ISS (International Space Station)
Pesawat Soyuz Rusia Meluncur ke Stasiun Antariksa Internasional

Roket Soyuz TMA-07M buatan Rusia meluncur dari pusat peluncuran Baikonur di padang rumput Kazakhstan hari Rabu (19/12/2012) siang. Berada di dalam pesawat itu adalah kosmonot Roman Romanenko, astronot Tom Mashburn dan Insinyur penerbangan Badan Antariksa Canada Chris Hadfield yang akan memimpin stasiun antariksa itu.Pesawat mereka dijadwalkan untuk merapat ke stasiun antariksa itu hari Jumat (21/12/2012). Perjalanan itu merupakan yang ke 150 kalinya bagi pesawat antariksa Soyuz ke Stasiun Antariksa Internasional (ISS).

Anatoly Rydakov, ketua gabungan untuk peluncuran Soyuz, melalui televisi pemerintah Rusia mengatakan meskipun suhu dibawah titik beku, kondisi-kondisi selama peluncuran diyatakan baik. Rydakov mengatakan kompleks peluncuran itu bisa beroperasi pada suhu sampai 40 derajat Celsius sampai suhu serendah 40 derajat Celcius di bawah nol. Menurutnya suhu tersebut baik untuk peluncuran.

Para awak itu akan bergabung dengan tiga awak lain yang mengorbit di atas stasiun antariksa, termasuk astronot Amerika Kevin Ford dan kosmonot Rusia Oleg Novitsky dan Yevgeny Tarelkin, yang sudah mengelola pusat riset bernilai $100 miliar sejak bulan Oktober. Para awak baru itu selama lima bulan mendatang akan berada di stasiun antariksa itu untuk melakukan berbagai aktivitas di antariksa dan eksperimen di laboratorium yang mengorbit bumi itu.

Peluncuran sukses hari Rabu (19/12) merupakan nilai plus bagi program antariksa Rusia yang baru-baru ini mengalami sejumlah kesalahan teknis. Tahun lalu, pesawat riset Phobos-Grunt bermaksud mengumpulkan tanah dari mars dan kembali ke bumi, diluncurkan dari pusat peluncuran Baikonur tapi gagal ke luar orbit. Dalam insiden lainnya, sebuah pesawat kargo yang dikirim ke stasiun antariksa untuk membawa perlengkapan gagal keluar orbit Bumi dan jatuh di Siberia.

Banyak analis menyebut kegagalan-kegagalan ini sebagian karena pengurangan anggaran antariksa Rusia. Rusia adalah satu-satunya negara yang membawa awak stasiun antariksa pulang pergi sejak NASA memensiunkan pesawat ulang-aliknya yang sudah tua. Akibatnya Amerika harus mengeluarkan dana sebesar $60 juta untuk mengirim seorang astronot ke stasiun antariksa itu.

www.voaindonesia.com