Cari di Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label PT Dirgantara Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PT Dirgantara Indonesia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Januari 2015

Thailand Pesan Pesawat N-219 Buatan PT Dirgantara Indonesia

Negara Thailand telah memesan pesawat terbang N-219 yang saat ini masih dikembangkan oleh PT Dirgantara Indonesia dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Pesawat N-219 dijadwalkan sudah bisa diproduksi massal mulai tahun 2016. Kabarnya pesawat kecil berkapasitas 19 orang tersebut akan dibanderol seharga US$. 4 juta per unit.

N-219 PTDI. ZonaAero
N-219 PTDI.
Thailand sudah pesan pesawat N-219.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Prof M. Nasir mengatakan Thailand sudah memesan pesawat N-219 yang risetnya tengah dikembangkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). "Riset N-219 ini tengah dibuat, dilakukan. Harapannya, pada pertengahan tahun ini sudah bisa digelindingkan keluar hanggar, sudah bentuk bodi pesawat," katanya, di Semarang, Jumat malam (30/1/2015).

Meski pesawat N-219 masih dalam proses riset, dia mengatakan, sudah ada negara lain yang memesan pesawat penumpang berukuran kecil itu, yakni Thailand. "Sudah ada pemesanan N-219 dari Thailand. Yang sudah melihat-lihat Filipina. Namun, yang sudah jelas memesan adalah Thailand. Diharapkan, akhir 2015 sudah bisa terbang, teruji," tukasnya.

Kalau semuanya sudah beres, termasuk sertifikasi pesawat, kata dia, ditargetkan pada 2016 sudah bisa dilakukan produksi massal untuk pesawat N-219. "Pesawat ini memiliki berbagai kelebihan," katanya.

N-219 rancangan PT Dirgantara Indonesia berbasiskan CASA C-212/NC-212 Aviocar yang produksinya lebih dulu dilakukan di hanggar produksinya, di Bandung. Digadang-gadang akan diberi banderol 4 juta dolar Amerika Serikat, N-219 bisa mengangkut 19 orang dengan beban maksimal lepas landas sekitar 7,5 ton dari bobot kosongnya sekitar 4,5 ton.

N-219 ditenagai dua mesin Pratt & Whitney PT6A-42 yang bisa menerbangkan dia hingga jarak tempuh ekonomis sekitar 1.100 kilometer pada kecepatan jelajah sekitar 400 kilometer perjam. Walau dirancang untuk bisa beroperasi dengan perawatan pada kondisi di wilayah terpencil, N-219 dilengkapi instrumen cukup canggih, di antara head-up display memampangkan instrumen penerbangan digital. Maklum, N-219 didedikasikan bisa menggantikan DHC-6 Twin Otter buatan de Havilland, Kanada, yang dikenal di seluruh dunia sangat tangguh dan andal dalam operasionalisasinya di wilayah-wilayah terpencil dengan fasilitas sangat minimal.

Ia menjelaskan pesawat N-219 memang didesain untuk transportasi udara antardaerah dan antarpulau dengan jarak yang tidak terlalu jauh dan kelebihannya tidak memerlukan landasan panjang. "Panjang landasan yang dibutuhkan untuk pesawat ini hanya 550-600 meter. Jadi, memang tidak butuh landasan panjang. Biasanya, landasan sampai 1,4, 1,8, 2,4 dan 2,8 kilometer," katanya.

Menurut dia, potensi pemasaran pesawat ini cukup besar, terutama dari dalam negeri yang kebutuhannya mencapai 200 pesawat, tetapi tentunya kebutuhan itu tidak semuanya bisa tercukupi. "Kapasitas produksi di pabriknya saja hanya 24 pesawat setahun. Kalau kebutuhannya 200 pesawat kan bisa sampai delapan tahun baru terpenuhi. Makanya, kami dorong pengembangan kapasitas produksi," kata Nasir.

www.antaranews.com

Rabu, 10 September 2014

N-219 PTDI Bakal Terbang Perdana Akhir Tahun Depan

Pesawat terbang N-219 buatan PT. Dirgantara Indonesia dijadwalkan untuk bisa melaksanakan penerbangan perdana pada Desember 2015. Sebelumnya, pesawat N-219 direncanakan untuk tampil perdana secara utuh di depan publik pada tanggal 10 Agustus 2015. Sedangkan pada Selasa 9 September 2014 lalu telah dimulai pemotongan pertama detail part manufacturing material pesawat berupa kusen kaca depan.

N-219 PT. Dirgantara Indonesia. ZonaAero
N-219 PT. Dirgantara Indonesia.
N-219, Pesawat Baru Produksi Indonesia.

Dunia industri pesawat terbang Indonesia kembali bergeliat. Hal tersebut ditandai dengan pembuatan prototipe pesawat terbang N-219 yang dikembangkan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) bersama PT. Dirgantara Indonesia (DI). Pada hari Selasa (9/9/2014), pengembangan pesawat perintis berpenumpang 19 orang itu dimulai dengan pemotongan pertama detail part manufacturing material pesawat berupa kusen kaca depan.

Kepala LAPAN Thomas Djamalludin, mengatakan, butuh waktu kurang lebih dari 10 tahun untuk bisa mewujudkan mimpi memulai proyek pembuatan protipe pesawat N-219 ini. Selain mematangkan konsep dan desain, LAPAN perlu meyakinkan pemerintah kalau pesawat N-219 ini bisa kembali membanggakan industri pesawat terbang dalam negeri.

Saat pemaparan dalam konferensi pers di workshop PT. DI, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Thomas menambahkan, LAPAN juga menjadi jembatan antara pemerintah dan industri pesawat terbang, --dalam hal ini PT DI, agar industri pesawat terbang Indonesia bisa mandiri. "Kita berharap industri pesawat terbang bisa mendukung penyedian pesawat transportasi khususnya daerah terpencil dengan keterbatasan geografis," ujar dia.

Thomas berharap, dukungan Pemerintah melalui pendanaan pengembangan industri pesawat terbang diharapkan bisa berlangsung dalam program jangka panjang. "Ketersediaan anggaran perlu mekanisme yang harus didukung agar ini jadi program jangka panjang karena ini program bukan setahun dua tahun. Di industri strategis ini kita akan lakukan pengembangan jangka panjang," ujar dia.

Di tempat yang sama, Direktur PT. Dirgantara Indonesia, Budi Santoso, menambahkan, pesawat terbang N-219 ini nantinya akan beroperasi di daerah-daerah terpencil di seluruh Indonesia. "Pesawat ini mampu mendarat di landasan yang pendek di ketinggian ekstrim," ujar dia.

Lebih lanjut, Budi menjelaskan, program N-219 ini dimulai sejak tahun 2006 dengan melakukan kajian pasar dan kelayakannya. Kemudian, pada tahun 2008 hingga 2012, dilanjutkan dengan membuat desain konsep dan melakukan uji wind tunnel (terowongan angin). Pesawat ini diharapkan selesai sepenuhnya dan menunjukkan kepada publik (roll out) pada 10 Agustus 2015. "First flight dijadwalkan pada bulan Desember 2015," tegasnya.

regional.kompas.com

Minggu, 25 Mei 2014

BJ Habibie Akan Promosikan Pesawat R-80 Di Amerika Serikat

BJ Habibie mengatakan bahwa beliau akan mempresentasikan pesawat R-80 di Washington DC, Amerika Serikat. R-80 adalah jenis pesawat terbang yang saat ini sedang dirancang dan dikembangkan oleh PT Regio Aviasi Industri (RAI). Kelak pesawat R-80 akan diproduksi bekerjasama dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Pesawat R-80. ZonaAero
Pesawat R-80.
Habibie Akan Presentasikan R-80 di Amerika.

PT Regio Aviasi Industri (RAI) akan memproduksi pesawat jenis R-80 yang diharapkan dapat meningkatkan konektivitas antar pulau di Tanah Air. Mantan Presiden BJ Habibie menegaskan produksi pesawat ciptaan anak negeri ini harus selesai dan sukses. Habibie bahkan meminta kepada Direktur Utama PT RAI Agung Nugroho untuk dapat mengirimkan model pesawat R80 kepadanya. Model pesawat tersebut akan digunakan Komisaris RAI ini untuk dipresentasikan di Amerika Serikat dalam waktu dekat. "Saya nanti mau ke Amerika Serikat. Saya minta dikirimkan modelnya. Saya minta Pak Agung kirimkan. Saya akan beri penjelasan di Washington DC," kata Habibie dalan pembicaraan video dari Muenchen, Jerman, Sabtu (25/4/2014).

Pada kesempatan yang sama, Agung menjelaskan pesawat R-80 adalah murni buatan Indonesia yang disponsori oleh PT RAI dan dikerjakan oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Pesawat berjenis turboprop ini diharapkan mampu meningkatkan mobilitas dan konektivitas masyarakat Indonesia yang berbentuk kepulauan. Pembuatan pesawat R-80 tersebut diakui Agung berbekal dari pengalaman bangsa mengembangkan pesawat berjenis turboprop terdahulu, seperti N250, NC212, dan CN235.

Terlebih lagi, kebutuhan Indonesia akan pesawat turboprop sangat besar. Sebab, tak semua kota di Indonesia dapat dilandasi pesawat besar. Oleh karena itu, pesawat menengah seperti R-80 dibutuhkan. "Selain itu, dengan adanya kenaikan BBM (bahan bakar minyak), kita harus ada solusi ekonomi. Pada akhirnya airlines melakukan efisiensi. Makanya kita membuat pesawat yang hemat operasional," ujar Agung.

bisniskeuangan.kompas.com

Indonesia Perlu Memproduksi Pesawat Penerbangan Perintis

Manager program pengembangan pesawat N219 PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Budi Sampurno mengatakan bahwa negara Indonesia perlu memproduksi sendiri pesawat terbang untuk rute penerbangan perintis. Pesawat untuk penerbangan perintis seperti jenis N219 yang sedang dikembangkan PTDI sangat berguna untuk menghubungkan semua wilayah di Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau.

N219 PT Dirgantara Indonesia. ZonaAero
N219 PT Dirgantara Indonesia.
PTDI: Indonesia Perlu Pesawat untuk Rute Perintis.

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri atas belasan ribu pulau. Program Manager N219 PT Dirgantara Indonesia Budi Sampurno menyatakan, kondisi ini menjadi tantangan untuk mengembangkan pesawat untuk rute perintis. "Tantangan cukup terbuka lebar. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi juga sejalan. Pertumbuhan penumpang mencapai 8 persen tidak diakomodir dengan jumlah pesawat yang memadai. Rata-rata pertumbuhan penumpang mencapai 21,9 persen," kata Budi dalam sebuah diskusi di Gedung Joang 45, Sabtu (24/5/2014).

Budi mengungkapkan, sangat penting untuk menjaga komunikasi dan konektivitas antar pulau. Kebutuhan konektivitas yang sangat tinggi itu, kata dua, perlu disinergikan oleh pemerintah dan industri. "Kebutuhan kita banyak. Kita juga punya industri, kenapa tidak disinergikan oleh pemerintah? Kita merasa dengan kemampuan yang kita punya, kita mampu mengembangkan N219," tegas Budi.

Ia menyebut khususnya di daerah bagian timur Indonesia sangat membutuhkan pesawat untuk melayani rute perintis. Ini disebabkan di kawasan tersebut banyak daerah yang tidak bisa dilalui transportasi darat, sehingga pesawat menjadi satu-satunya alternatif moda transportasi.

Ia memberi contoh rute penerbangan Nabire-Sugapa. Rute ini hanya memiliki landasan sepanjang 500 meter dan hanya bisa menggunakan pesawat sebagai moda transportasi ke daerah lain. Sehingga, pesawat ukuran kecil dan menengah menjadi pilihan penting. "Sasaran di daerah-daerah perintis, terutama Indonesia bagian timur. Ada banyak daerah yang bisa dihubungkan hanya dengan transportasi udara. Kadang-kadang mereka merasa tidak menjadi bagian dari NKRI," ungkap Budi.

bisniskeuangan.kompas.com

Sabtu, 08 Maret 2014

PTDI Kembangkan Pesawat CN-235 Varian Sipil Mulai Tahun Depan

Dirgantara Indonesia Siapkan Pesawat CN-235 Sipil.

Pesawat terbang CN-235 akan segera memiliki varian sipil untuk penerbangan komersial. Seperti diketahui, CN-235 yang dikembangkan oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan CASA Spanyol adalah jenis pesawat untuk keperluan militer yang tentu saja dibanderol dengan harga jual yang tinggi sehingga tidak kompetitif jika dipasarkan sebagai pesawat terbang komersial. Pihak PTDI mengatakan bahwa varian sipil pesawat CN-235 hingga saat ini belum memiliki nama khusus. "Belum dikasih nama," kata Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso di Bandung, Jumat, 7 Maret 2014. Desain pesawat CN-235 sipil itu mulai digarap tahun depan.

CN-235 PT Dirgantara Indonesia. ZonaAero
Perubahan yang tengah dipersiapkan itu memangkas beberapa fitur pesawat, di antaranya menghilangkan ramp-door atau pintu besar di bagian ekor pesawat untuk menurunkan barang, serta peranti hidrolik. "Kami akan ubah beberapa komponen dan bentuknya sedikit supaya dia secara komersial lebih kompetitif."

Dengan menghilangkan sejumlah fitur itu, kata Budi, tubuh pesawat bisa dibuat lebih besar sehingga mendongkrak kapasitas angkut penumpang dengan tetap mempertahankan bobot pesawat itu. Dengan bentuknya saat ini, CN-235 hanya bisa dijejalkan maksimal 42 kursi penumpang, sedangkan nanti kapasitasnya menjadi 50 penumpang.

Dengan modifikasi itu, harga pesawat CN-235 versi sipil akan lebih murah dibandingkan versi militernya. Pesawat versi sipil CN-235 itu nantinya juga lebih murah. "Kalau yang sekarang lebih boros, kurang kompetitif," kata Budi.

Dia mengatakan pesawat CN-235 dirancang untuk memenuhi kebutuhan militer, tapi tak menutup kemungkinan pengembangan varian sipilnya. Sejumlah produsen pesawat juga menggunakan strategi serupa. Budi mencontohkan, pesawat MA60 buatan Cina yang kini digunakan Merpati itu awalnya pesawat militer.

www.tempo.co

Kamis, 27 Februari 2014

Pesawat N-245 Dan N-270 Bakal Dirancang Setelah Proyek Pesawat N-219

Pesawat terbang N-245 dan N-270 akan segera dirancang dan dibuat oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) setelah selesai proyek pengembangan pesawat N-219 pada tahun 2016. Keterlibatan LAPAN hanya sampai pada pembuatan prototipe pesawat N-245 dan N-270, sedangkan proses produksi akan dilakukan oleh PT Dirgantara Indonesia.
Pesawat Terbang N-250. ZonaAero
Setelah N-219, RI Siapkan Proyek Pesawat Baru N-245 dan N-270

Pesawat terbang N-245 dan N-270 akan dirancang dan dibuat oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Proyek ini akan dikerjakan setelah proyek pesawat ringan N-219 selesai dikerjakan tahun 2016. "Setelah ini akan ada N-245 dan N-270 yang segera dimulai pada pertengahan tahun 2016 kita buat desain. N-245 itu untuk 45 penumpang, N-270 untuk 70 penumpang dan kedua pesawat ini pakai 2 mesin. Diharapkan cita-cita kita adalah R&D (penelitian dan pengembangan) ada di LAPAN, produksinya ada di DI," kata Kepala Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN Gunawan S Prabowo saat ditemui di Kantor LAPAN Rawamangun Jakarta, Selasa (25/02/2014).

Saat ini, LAPAN menganggarkan Rp 400 miliar untuk mengembangkan pesawat N-219 yang diserahkan kepada PTDI. Namun apaila pesawat itu sudah jadi dan dijual secara komersial, LAPAN tidak mendapatkan keuntungan penjualan. "LAPAN itu hanya kembangkan design center. Hasil penjualan itu nggak masuk ke kita. Kita berhenti hanya sampai prototype saja," ungkapnya.

Dana sebesar Rp 400 miliar akan dikucurkan selama 2 periode yaitu tahun 2014 sebesar Rp 310 miliar dan tahun 2015 sebesar Rp 90 miliar. LAPAN sebagai lembaga yang dimiliki negara hanya mengambil keuntungan dari hak cipta pesawat dan keterlibatan 30 tenaga ahli LAPAN untuk bekerjasama membuat pesawat N219 dengan PTDI. "Untungnya apa untuk LAPAN? Kita punya industri penerbangan. Kalau kita ingin improve kemampuan nggak kita nggak akan mampu. Sehingga ini kan ada barangnya jadi bagus itu imbal baliknya ke LAPAN. Lalu hak paten menjadi milik negara," imbuhnya.

finance.detik.com

Rp 400 Miliar Untuk Pengembangan Pesawat N-219

Pesawat terbang N-219 adalah jenis pesawat terbang terbaru yang dirancang dan dikembangkan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan PT Dirgantara Indonesia. Anggaran senilai Rp 400 miliar telah disiapkan untuk proyek pengembangan pesawat terbang N-219 tersebut.
Pesawat Terbang N-219. ZonaAero
Indonesia Kembangkan Pesawat N-219

Dana sebesar Rp 400 miliar telah dianggarkan untuk proyek pengembangan N-219, pesawat terbang jenis terbaru buatan Indonesia. Proyek pengembangan pesawat terbang ini merupakan kerjasama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan PT Dirgantara Indonesia. Demikian yang disampaikan oleh Kepala Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN, Gunawan S. Prabowo. "Untuk anggaran 2014 Rp 310 miliar dan Rp 90 miliar untuk anggaran 2015," kata Gunawan seusai penandatangan kontrak kerja sama pengembangan pesawat N-219 dengan PT Dirgantara di kantornya, Selasa, 25 Februari 2014.

Pesawat N-219 buatan anak bangsa ini akan mengunggulkan muatan lokal Indonesia. Teknologi yang dikembangkan adalah hasil temuan ahli penerbangan Indonesia. Proses produksi pesawat juga akan melibatkan industri kecil dalam negeri. Pesawat berkapasitas 19 kursi ini bersertifikasi CASR-23 yang cocok dioperasikan pada bandara-bandara dengan infrastruktur yang minim.

Kepala Program Pengembangan Pesawat N-219 Agus Ariwiboro mengatakan pesawat itu sudah banyak diminati. Ada delapan pihak yang berminat membeli pesawat itu, yakni Lion Air seratus unit, Nusantara Buana Air 30 unit, pemerintah daerah Papua dan Papua Barat 15 unit, Aceh enam unit, Sulawesi enam unit, Riau empat unit, Thailand 18 unit, dan TNI Angkatan Laut 9-15 unit. "Pendanaannya dari APBN, maka pendapatannya pun untuk APBN. Pemegang hak cipta dan paten juga negara," katanya.

Pesawat jenis ini, kata Agus, cocok dioperasikan pada bandara-bandara kecil, sehingga dapat menjangkau seluruh Indonesia.

Saat ini, pesawat N-219 memasuki tahap desain awal. Proyek pengembangan pesawat ini dimulai pada 2004 dan akan ditargetkan terbang perdana pada 2016. Pesawat N-219 diperkirakan mempunyai nilai ekonomis US$ 3,8 juta. Pesawat ini menggunakan dua mesin yang masing-masing berkekuatan 850 shaft horse sharp (shp). Pesawat ini mampu lepas landas dalam jarak pendek, sehingga hanya memerlukan landasan 500-600 meter. Selain mampu mengangkut penumpang, pesawat ini dirancang sebagai pesawat kargo.

www.tempo.co

Rabu, 25 Desember 2013

Pesawat N-219 Produksi PTDI Bakal Go International Tahun 2017

Pesawat N-219 Produksi PTDI Bakal Go International Tahun 2017. N-219 adalah jenis pesawat bermesin propeller dengan kapasitas 19 penumpang yang dikembangkan dan diproduksi oleh pabrik pesawat terbang PT Dirgantara Indonesia. Pesawat terbang ini mampu lepas landas dan mendarat di landasan yang hanya memiliki panjang 600 meter saja sehingga masuk dalam jajaran pesawat tipe STOL (Short Take-Off and Landing).
N-219. ZonaAero
Pesawat N-219 masuk pasar dunia tahun 2017

Pesawat N-219 produksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) ditargetkan masuk ke pasar internasional tahun 2017. "Saat ini rintisan pesawat N-219 sudah dilakukan dan ditargetkan pada 2016 sudah diproduksi dan perizinannya keluar, sehingga 2017 kami bisa masuk pasaran internasional," kata Asisten Direktur Bidang Jaminan Mutu dan Humas PTDI Sony Saleh Ibrahim di Bandung, Selasa*(24/12/2013).

Pesawat N-219 merupakan pesawat baling-baling berukuran kecil. Menurut Sony, pesawat itu cocok untuk penerbangan perintis. "Pesawat itu masuk pesawat kecil, namun N-219 memiliki kapasitas penumpang lebih banyak dari pesawat sejenisnya yang ada saat ini. Pesawat ini akan mampu mendarat di landasan pacu pendek dan juga di daerah pegunungan," katanya.

Sony yakin pesawat N-219 bisa primadona dalam penerbangan perintis dan jarak pendek. "N-219 bisa bersaing dengan keunggulan dari sisi kualitas dan juga harga yang jauh lebih ekonomis. Harganya di kisaran empat juta dolar AS hingga 4,5 juta dolar AS, keunggulan lainnya daya angkut lebih besar," katanya.

Ia mengatakan, PTDI berharap bisa memenuhi 20 persen kebutuhan pesawat kecil dunia yang selama tahun 2012 saja sekitar 800 unit. Perusahaannya, lanjut Sony, berencana menyasar pasar Asia dan Afrika. PTDI juga menggenjot produksi dan pemasaran pesawat N-295, CN-235 MPA, helikopter NBell 412 EP serta pesawat N-212 baik versi sipil maupun militer.

Menurut Sony, saat ini sekitar 60 persen pesawat produk PTDI merupakan pesanan dari pemerintah.

www.antaranews.com

Selasa, 27 Agustus 2013

Iran Usulkan Kerjasama Dengan Indonesia Di Bidang Teknologi Pesawat Terbang Sipil

ZonaAero, Informasi Penerbangan: Iran Usulkan Kerjasama Dengan Indonesia Di Bidang Teknologi Pesawat Terbang Sipil. Usulan kerjasama dalam bidang pengembangan teknologi pesawat terbang versi sipil tersebut disampaikan oleh delegasi JWC Iptek Iran ketika berkunjung ke PT Dirgantara Indonesia pada Rabu, 24 Juli 2013. Delegasi Irang menganggap penting kerjasama tersebut karena saat ini Iran sedang melakukan riset untuk pengembangan dan pembuatan pesawat terbang sipil dengan kapasitas 100 dan 15o penumpang.
CN-235 Produk PT Dirgantara Indonesia. ZonaAero
Iran Kagumi Teknologi Pesawat Terbang Indonesia

Salah satu usulan dari Pemerintah Iran yang disampaikan pada the 4th Indonesia-Iran Joint Working Committee (JWC) Meeting on Scientific and Technological Cooperation adalah kerja sama di bidang teknologi pesawat terbang sipil. Untuk merealisasikan usulan tersebut, delegasi JWC Iptek Iran berkunjung ke PT Dirgantara Indonesia (PT DI) di Bandung pada Rabu, 24 Juli 2013. Menurut Deputi Menteri Sains, Riset, dan Teknologi Iran Mohammad Mahdi Nejad Nouri yang menjadi Ketua Delegasi JWC Iran, kerja sama di bidang riset dan pengembangan pesawat terbang sipil dengan Indonesia sangat strategis bagi Iran karena saat ini Iran sedang melakukan riset dan pengembangan pesawat terbang untuk kapasitas 100 dan 150 orang. "Dengan berkunjung ke sini, kami ingin mengetahui apa saja aktivitas riset dan pengembangan di PT DI dan berharap dapat menjalin kerja sama yang lebih intens," ujar Mahdi.

Andi Alisjahbana, Direktur Teknologi dan Pengembangan Rekayasa PT DI yang menyambut delegasi JWC Iran, menyampaikan sejarah dan aktivitas PT DI. Menurut Andi, kemampuan utama PT DI adalah mengintegrasikan berbagai teknologi dan komponen menjadi pesawat terbang yang berkualitas. Beberapa jenis pesawat yang telah diproduksi PT DI adalah CN235-220, NC-212-200, Helikopter NBO-105, Helikopter BELL-412, dan Helikopter NAS-332C1. Yang sedang dikembangkan PT DI saat ini adalah pesawat turboprop untuk kapasitas 80-100 penumpang. "Peluang di kelas turboprop masih terbuka lebar karena saingan kita yang kuat hanya ATR dan Bombardier," ujar Andi.

Setelah melakukan diskusi, delegasi JWC Iran diajak berkunjung ke beberapa fasilitas di PT DI. Sonny S Ibrahim, Manajer Komunikasi PT DI, memperlihatkan proses produksi beberapa komponen pesawat di fasilitas Aerostructures. Menurut Sonny, fasilitas tersebut memproduksi komponen untuk Airbus A380/A320/A321/A340/A350, Boeing B-747/B-777/B-787, Eurocopter MK-2 (EC225/EC725), dan Airbus Military CN235/C295/C212-400. "Khusus untuk komponen bahu pesawat Airbus A380, PT DI dipercaya sebagai single supplier," ujar Sonny.

Sonny juga mengajak delegasi melihat langsung proses pembuatan pesawat CN235-220 untuk kapasitas 35-40 penumpang dan NC-212-200 untuk kapasitas 12-26 penumpang. Menurut Sonny, proses pembuatan satu unit pesawat di PT DI mulai dari material pertama sampai proses delivery membutuhkan waktu sekitar 14 bulan, dengan kapasitas produksi masing-masing 6 unit untuk tiap jenis pesawat. Keunggulan pesawat CN235-220 adalah dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan (multipurpose). "Pesawat ini dapat mendarat di tanah dan dengan kekuatan mesin penuh, pesawat ini hanya membutuhkan landasan dengan panjang 600 meter untuk take-off," jelas Sonny.

Delegasi JWC Iptek Iran sangat terkesan dengan kemampuan PT DI dalam riset, pengembangan, hingga produksi pesawat. Mereka berharap kerja sama di bidang teknologi pesawat terbang ini dapat direalisasikan segera.

tekno.kompas.com

Selasa, 13 Agustus 2013

Lion Air Berminat Gunakan 50 Unit Pesawat N 219 PTDI Layani Penerbangan Perintis

ZonaAero, Informasi Penerbangan: Lion Air Berminat Gunakan 50 Unit Pesawat N 219 PTDI Layani Penerbangan Perintis. Rencana Lion Air untuk membeli 50 unit pesawat terbang N 219 buatan PTDI tersebut mendapat sambutan baik dari Menteri BUMN dan PT Dirgantara Indonesia. Sebagai persiapan ke arah itu, Direktur Utama maskapai Lion Air, Rusdi Kirana telah menemui Dahlan Iskan (Menteri BUMN) guna membicarakan rencana pembelian 50 pesawat N 219 tersebut.
N 219 PTDI. ZonaAero
Ini Alasan Lion Air Berniat Beli Pesawat Made In Bandung

Selama ini, maskapai penerbangan nasional Lion Air terkenal memborong pesawat Airbus dan Boeing buatan luar negeri. Namun kali ini, Lion Air berniat mengembangkan produk nasional dengan membeli pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Direktur Umum Lion Air Edward Sirait mengatakan, pesawat N219 yang tengah dikembangkan oleh PTDI merupakan asli produk buatan Indonesia. "Harapan kami adalah produk domestik akan berkembang dan bermanfaat bagi dunia penerbangan," ujar Edward, Senin (12/8/2013).

Edward belum mau menceritakan lebih panjang soal rencana pembelian ini. Namun rencananya bila pesawat ini jadi dibeli, maka akan digunakan untuk penerbangan perintis yang rencananya akan disasar oleh Lion Air. "Pesawat ini kan kursinya terbatas. Saat ini masih banyak daerah-daerah yang masih harus diterbangi, tapi sarana bandara belum sebesar armada yang kami miliki," jelas Edward.

Sebelumnyai, Direktur Utama Lion Air Rusdi Kirana bertemu Menteri BUMN Dahlan Iskan di kantornya untuk membicarakan niat membeli 50 unit pesawat N219 yang prototype-nya sedang dibuat PTDI. "Kami sepakat mengembangkan PTDI untuk menjadi kebanggaan nasional, beliau (Rusdi) ini kan beli pesawat banyak dari luar negeri, dia ingin ikut kembangkan PTDI dengan membeli pesawat PTDI yang orisinil PTDI, yang betul-betul kebanggan PTDI yang prototype-nya dalam setahun ini jadi, kemudian uji coba dalam 2 tahun jadi, pesawat N219, 19 seat," tutur Dahlan.

Rencananya, ujar Dahlan, Lion Air akan membeli sekitar 50 unit pesawat buatan PTDI yang pabriknya berada di Bandung ini. Namun perundingan pembelian ini masih panjang. "Perundingannya masih panjang. Tidak seperti beli kerupuk," ujar Dahlan.

PTDI, ujar Dahlan, siap untuk memproduksi N219 dalam 2 tahun ke depan. Selain Lion Air, pesawat ini juga akan dipasarkan di luar negeri. Dahlan sudah bertemu dengan Direktur Utama PTDI terkait rencana pembelian oleh Lion Air ini.

finance.detik.com

Senin, 15 Juli 2013

Pesawat CN-295 Produksi PTDI Diminati Provinsi Kalimantan Timur

Informasi Penerbangan: Pesawat CN-295 produksi PT Dirgantara Indonesia telah menarik minat Gubernur Kalimantan Timur, Awang Faroek. Menurutnya, Kalimantan Timur mempunyai 22 bandara, tapi masih sedikit pesawat terbang yang beroperasi di provinsi itu. Yang paling mendesak adalah kebutuhan transportasi udara di daerah perbatasan. Dengan dimilikinya pesawat sejenis CN-295, hambatan itu diharapkan bisa diatasi.
CN-295. ZonaAero
Provinsi Kalimantan Timur Tertarik Beli CN-295

Pemerintah Kalimantan Timur tertarik memesan pesawat CN-295 produksi PT Dirgantara Indonesia. "Ini bukan untuk mewah-mewah, tapi untuk kepentingan rakyat Kalimantan Timur," kata Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak saat menyaksikan penyerahan helikopter Bell-412 EP produksi PT Dirgantara Indonesia pada Kementerian Pertahanan di Bandung, Sabtu, 13 Juli 2013.

Faroek mengatakan, daerahnya memiliki 22 bandara, tapi minim alat transportasi udara, terutama di daerah perbatasan. "Bayangkan saja (di perbatasan) semen Rp 1 juta per sak, kalau misalnya kita punya CN-295, semen bisa diangkut dan harga semen di kota akan sama dengan harga di perbatasan," kata dia.

Dia mengungkapkan, saat ini pemerintah Kalimantan Timur tengah mengerjakan perpanjangan badan 3 landasan di daerah perbatasan dengan Malaysia. Dengan perbaikan itu, kata Faroek, pesawat jenis Airbus dan CN-295 bisa mendarat di bandara itu. "Kalau kami beli pesawat jangan diributkan, tapi untuk kepentingan rakyat Kalimantan Timur."

Sebelumnya pemerintah Kalimantan Timur memberikan hibah Rp 120 Miliar pada Kementerian Pertahanan RI untuk pengadaan helikopter Bell-412 EP. Kontrak pembuatan helikopter itu diteken Maret 2012, dan hari ini, Sabtu, 13 Juli 2013, resmi diserahkan PT Dirgantara Indonesia pada Kementerian Pertahanan. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyambut baik rencana pembelian CN-295 itu. "Ini sambil promosi," kata dia.

Menurut dia, pengembangan industri pertahanan dalam negeri tidak bisa hanya bergantung pada pemesan alutsista dari pemerintah. "Kalau tergantung pasarnya pada Kementerian Pertahanan, TNI, Polri, tidak cukup. Harus ada diversisivikasi produknya untuk bisa digunakan instansi lain," kata Purnomo.

Purnomo mengatakan, kementeriannya menargetkan bisa membangun 1 skuadron Light Transport pesawat CN-295. Dari 16 pesawat yang dibutuhkan untuk membangun 1 skuadron, belum separuhnya dibeli. "Kita harapkan kita bisa bangun itu," kata dia.

Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia mengungkapkan, pesawat CN-295 pesanan pemerintah yang tengah diproduksi di pabrik Airbus Military akan tiba di pabrik PT Dirgantara Indonesia mulai bulan ini. "Finishingnya di Bandung," kata dia.

Direktur Pengembangan Teknologi PT Dirgantara Indonesia Supra Dekanto mengatakan, level pekerjaan yang akan digarap baru 10 persen dari porsi produksi pesawat CN-295. Untuk pekerjaan pertama yagn digarap, finishing pesawat itu yakni interior pesawat dan pengecatan. "Kita kerjakan bertahap," kata dia.

Menurut Supra, PT Dirgantara menargetkan menggarap bagian samping badan pesawat utama, bagian belakang pesawat, serta ekor vertikal dan hiorisontal pesawat CN-295 tahun depan. Dia berharap, produksi komponen itu sudah bisa digarap tahun depan. Supra mengatakan, hingga saat ini, sejumlah negara tetangga menyatakan tertarik membeli CN-295. "Filipina, Malaysia, dan Thailand, mereka menyatakan interest, tapi harus ditindaklanjuti," kata dia.

www.tempo.co

Rabu, 03 Juli 2013

Pesawat Buatan PT Dirgantara Indonesia Laris Manis Di Pasar Kawasan Asia-Pasifik

Informasi Penerbangan: Beberapa jenis pesawat terbang yang diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia telah dipesan oleh sejumlah negara di kawasan Asia-Pasifik. Tercatat bahwa negara-negara Filipina, Thailand, dan Malaysia telah menandatangani kontrak pembelian pesawat terbang dari PT Dirgantara Indonesia.
CN-235 PT Dirgantara Indonesia. ZonaAero
Pesawat Made in Bandung Laris Dibeli Timor Leste, Malaysia Hingga Madagaskar

BUMN produsen pesawat terbang asal Bandung, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) gencar menggarap pasar di Asia Pasifik. Sejumlah kontrak pembuatan pesawat NC212, CN-235 dan CN-295 akan diteken tahun ini dengan Filipina, Thailand, dan Malaysia. Hal itu disampaikan Manajer Pemasaran PT DI, Teguh Graito di Kantor PT DI, Jalan Pajajaran, Bandung, Selasa (2/7/2013). Ia menuturkan, pasar Asia Pasifik menjadi salah satu pasar yang fokus digarap PT DI karena jarak yang lebih dekat dan hubungan diplomatik yang baik. "Di wilayah Asia Pasifik, kita punya sejarah yang kuat. Hanya sedikit produsen pesawat terbang di Asia," ujar Teguh.

Berdasarkan market studi bersama Airbus Military (CASA), kebutuhan pesawat terbang kelas NC212 di Asia Pasifik sekitar 100 unit, CN-235 sekitar 75 unit dan CN 295 sekitar 75 unit. Dengan market studi yang ada, PT DI pun melakukan penetrasi dengan melakukan market survei secara langsung untuk mengetahui indikasi kebutuhan yang sebenarnya.

Teguh menyebutkan khusus untuk NC212 sejumlah negara saat ini tengah intens komunikasi untuk melakukan kerjasama. Kebutuhan NC212 diantaranya 2 unit untuk Air Force Filipina, sebanyak 6-8 unit untuk Ministry of Agriculture and Cooperatives (MoAC) Thailand, 6 unit untuk Myanmar Airforce, 2 unit untuk Nepal Army, 2 unit untuk Papua Nugini, 2 unit untuk Timor Leste Air Force, 2 unit untuk Biman Airlines Bangladesh dan 2 unit untuk Air Madagaskar. "Untuk Thailand, dari kebutuhan 6-8 unit, mereka menginginkan pengiriman 1 setiap tahun. Kita sudah mengerjakan 1 tahun 2012 lalu, harapannya, tahun ini akan ada kontrak lagi," katanya.

Sementara untuk CN-235 PT DI tengah intens berkomunikasi dengan sejumlah negara seperti Filipina, Malaysia, Brunai Darusalam, Thailand dan Myanmar. "Malaysia berencana mengkonversi 3 unit CN-235 nya menjadi maritim patrol. Selain itu Filipina juga diharapkan akan kontrak dengan kami tahun ini," tutur Teguh.

finance.detik.com

Kamis, 13 Juni 2013

Pesawat CN-295 Hanya Butuh Runway 600 Meter Untuk Take-Off

Informasi Penerbangan: Pesawat CN 295 hanya butuh landasan pacu sepanjang 600 meter untuk melakukan take-off atau tinggal landas. Kemampuan pesawat angkut kelas yang juga akan diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia sedang ini diperlihatkan di landasan pacu bandara Pangkalan Udara Wiriadinata.
CN-295. ZonaAero
Pesawat CN 295 Unjuk Kekuatan

Pesawat TNI AU keluaran terbaru jenis CN 295 memiliki kemampuan lepas landas dan mendarat dilandasan pendek. Hal itu dibuktikan saat pesawat hasil kerjasama antara PT Dirgantara Indonesia dengan Airbus Military, Spanyol itu melakukan uji coba landasan Lanud Wiriadinata kemarin. Dari panjang landasan 1200 meter, CN 295 hanya butuh 600 meter untuk melaju dan mengangkat badan pesawat membumbung ke udara. "Pesawat ini baru datang Bulan Oktober 2012. Sekarang diuji coba untuk masuk disemua landasan yang pendek, termasuk di Lanud Wiriadinata ini. Karena salah satu keunggulan pesawat ini (CN 295) bisa take off dilandasan pendek meskipun badannya cukup panjang," ungkap sang pilot CN 295, Letnan Kolonel Pnb Elistar Silaen, dari Skadron Udara II Wing I Halim Perdana Kusumah, beberapa saat setelah landing di Lanud Wiriadinata, Selasa (11/6/2013).

Pesawat mendarat sekitar pukul 8.45 setelah berangkat dari Bandara Halim Perdanakusumah sekitar pukul 7.45. Setibanya di Landasan Pacu Lanud Wiriadinata pesawat tidak langsung parkir. Melainkan langsung mengambil posisi line up, setelah sempat memutar arah. Pilot langsung melakukan uji coba terbang dengan landasan pendek, dan sempat mengelilingi langit Tasikmalaya satu putaran sebelum akhirnya landing kembali.

Menurut Elis, pesawat angkut sedang taktis generasi terbaru ini memiliki kapasitas untuk membawa 8 ton kargo atau membawa 50 sampai 70 orang personil. Hingga saat ini, dari 9 unit yang dipesat TNI AU dari perusahaan spanyol baru dua yang datang. Dalam waktu dekat pesawat dan ketiga juga akan datang. Pesawat yang menggunakan full glass cockpit itu, minggu lalu baru saja selesai melakukan misi keliling ASEAN.

Pesawat ini bisa digunakan sebagai pesawat pengangkut logistik, bisa juga untuk melakukan penerjunan personil TNI. Rencananya pesawat itu juga akan mencoba landasan pendek di Yahukimo papua dalam waktu dekat. "Pesawat ini adalah pengembangan dari pesawat CN 235 yang dulu sudah sukses. Untuk pesawat yang ketiga dan keempat nanti Assembly nya di kita (Indonesia). Karena kan ini merupakan hasil kerjasama PT DI dengan Airbus (Airbus Military)," tuturnya.

Sementara itu, Komandan Lanud Wiriadinata, Letnan Kolonel Penerbang Indan Gilang Buldansyah yang juga masih rekan Elis menuturkan kedatangan pesawat tersebut selain dalam rangka misi uji coba di landasan pendek, juga menjadi catatan bagi Lanud Wiriadinata menguji kesiap siagaan melayani lalulintas penerbangan.

Terkait rencana dibukanya penerbangan sipil dan sekolah penerbangan, Indah mengatakan saat ini Lanud Wiriadinata tengah menunggu sertifikat bandara khusus keluar. Setelah dilakukannya verifikasi oleh direktorat bandar udara sebulan lalu. "Hasil verifikasi itu ada sebelas temuan. Tapi itu hanya administrasi dan intinya yang harus kita lakukan adalah memundurkan marking (penandan landasan). Dan itu sudah kita lakukan, makanya sekarang markingnya mundur sedikit kebelakang kan," singkat dia.

www.jpnn.com

Kamis, 06 Juni 2013

PTDI Dan EADS Tingkatkan Produksi Helikopter Di Indonesia

Informasi Penerbangan: PT Dirgantara dan EADS akan meningkatkan jumlah produksi helikopter di Indonesia. Menambah jumlah produksi pesawat helikopter di Indonesia ini dianggap langkah yang strategis mengingat populasi helikopter di Indonesia terhitung masih sedikit. Oleh karena itu Indonesia dinilai bahwa pasar populasi helikopter di Indonesia masih sangat menjanjikan, selain untuk diekspor ke kawasan regional dan negara-negara lain.
PT Dirgantara Indonesia. ZonaAero
Dirgantara Indonesia-EADS sepakat tingkatkan produksi pesawat

PT Dirgantara Indonesia dengan Aeronautic Defence and Space Company (EADS), perusahaan produsen Airbus, Eurocopter, dan Eurofighter sepakat meningkatkan produksi helikopter dan pesawat, termasuk komponennya dalam jangka panjang. "EADS dan Dirgantara Indonesia sepakat terus meningkatkan bisnis pembuatan pesawat dan helikopter untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun keperluan negara lainnya," kata Dahlan usai menerima kunjungan Presiden Direktur/CEO EADS, Thomas Enders, di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa.

Dahlan menjelaskan bahwa jumlah helikopter di Indonesia masih sangat kurang, terlebih jika dibandingkan dengan Brasil. "Airbus akan meningkatkan kerja sama helikopter. Karena di Brasil ada 2.000 helikopter di Indonesia hanya 200," jelas Dahlan di Kementerian BUMN, Jakarta.

Dahlan yang didampingi Direktur Utama Dirgantara Indonesia, Budi Santoso, mengatakan bahwa pihak EADS ingin meningkatkan kerja samanya dengan Dirgantara Indonesia yang merupakan BUMN pembuat pesawat terbang. Dahlan menjelaskan bahwa jumlah helikopter di Indonesia dibandingkan dengan sejumlah negara masih relatif sangat rendah. "Pasar helikopter di Indonesia masih sangat menjanjikan karena jumlahnya yang minim," ujarnya.

Mantan Dirut PLN ini mencontohkan Brasil saat ini memiliki sekitar 2.000 helikopter, sementara Indonesia masih memiliki 200 helikopter. Dalam kerja sama produksi helikopter ini, kata dia, Airbus bertindak sebagai penjamin pembiayaan pengembangan helikopter. Untuk itu, Dahlan menyerahkan sepenuhnya kepada Dirgantara Indonesia untuk menindaklanjuti kerja sama tersebut, termasuk kapasitas produksi yang ditargetkan.

Sementara itu, Direktur Utama Dirgantara Budi Santoso menjelaskan bahwa Indonesia ke depannya akan menjadi mitra serius bagi EADS dalam pengembangan industri dan bisnis dirgantara. "EADS menganggap Dirgantara Indonesia sebagai mitra strategis dan penting dalam industri pembuatan pesawat," ujar Budi.

www.antaranews.com

Jumat, 03 Mei 2013

Tahap Produksi Pesawat N-219 Masih Terkendala Pembiayaan

Pesawat terbang penumpang dan kargo jenis N-219 yang dikembangkan oleh PT Dirgantara Indonesia yang bekerjasama dengan BPPT sampai sekarang masih belum bisa diproduksi massal. Kendala yang dihadapi oleh pesawat N-219 untuk memasuki tahap produksi adalah masalah pembiayaan. Sebelumnya, Kementerian Perhubungan dan Kementerian Perindustrian sudah menyatakan untuk mendukung pendanaan produksi pesawat N-219. Namun dana yang dijanjikan oleh kedua departemen tersebut sampai sekarang belum ada realisasinya.
N-219 PT Dirgantara Indonesia. ZonaAero
BPPT-PT DI Berencana Bangun Pesawat N-219 Untuk Penerbangan Perintis

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama dengan PT Dirgantara Indonesia (DI) menginisiasi program pengembangan pesawat N-219, yakni pesawat berkapasitas 19 penumpang yang diperuntukan melayani rute-rute terpencil atau penerbangan perintis. Kepala BPPT Marzan Aziz Iskandar berharap meskipun saat ini pengembangan pesawat karya anak bangsa ini masih menemui kendala, tidak lama lagi sudah bisa direalisasikan. Menurutnya, sampai saat ini perkembangan N-219 memang belum mendapatkan titik terang dan masih menemui sejumlah kendala sejak diperkenalkan dua tahun lalu. "Kami sudah memberikan dukungan dengan melakukan pengujian-pengujian. Kami juga telah membantu mendapatkan pendanaan untuk produksinya. Namun, sampai saat ini belum ada titik terang untuk total pendanaannya," katanya baru-baru ini.

Marzan menambahkan, mengenai masalah pendanaan memang ada pernyataan-pernyataan dari Kementerian Perhubungan dan Kementerian Perindustrian yang siap mendukung, tapi mengenai realisasinya, belum ada kepastian. "Dari hitungan sebenarnya, harga pesawat tidak terlalu mahal, yaitu sekitar Rp 38 miliar per unit. Saat ini, sudah ada 35 unit yang dipesan oleh beberapa perusahaan industri penerbangan. Namun, kembali lagi, kami masih kesulitan menyusun skema pendanaan untuk proses produksi," ungkapnya.

Direktur Teknologi dan Pengembangan Rekayasa PT Dirgantara Indonesia Andi Alisjahbana mengakui pengembangan pesawat ini membutuhkan dana yang cukup besar, yaitu sekitar Rp 600-800 miliar, bahkan mendekati Rp1 triliun. "Tapi, kami tetap optimistis, dan menargetkan tahun 2016 pesawat kebanggaan Indonesia ini harus mulai diproduksi," katanya Andi, di sela acara Penandatanganan MoU Produksi dan Pengembangan Teknologi Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) Wulung, di BPPT, Jakarta, baru-baru ini.

Perkembangan dari pesawat N-219 ini melibatkan PT DI, Kementerian Riset dan Teknologi, BPPT, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perhubungan. "Semuanya saling bekerja sama untuk mewujudkan pesawat berpenumpang 19 orang ini. Pesawat yang membutuhkan landasan pendek untuk menjangkau daerah-daerah terpencil," ucapnya.

Pesawat N-219 adalah pesawat multifungsi bermesin dua yang dirancang oleh PT DI untuk dioperasikan di daerah-daerah terpencil. Pesawat ini terbuat dari logam dan dirancang untuk mengangkut penumpang maupun kargo. Pesawat yang dibuat dengan memenuhi persyaratan FAR 23 ini dirancang memiliki volume kabin terbesar di kelasnya dan pintu fleksibel yang memastikan bahwa pesawat ini bisa dipakai untuk mengangkut penumpang dan juga kargo. N-219 merupakan pengembangan dari NC-212 yang sudah diproduksi oleh PT DI di bawah lisensi CASA. Pesawat ini dirancang memiliki kecepatan jelajah maksimum 395 km/ jam dan kecepatan jelajah ekonomis 352 km/jam dengan muatan maksimum 2500 kilogram.

www.suarapembaruan.com

Sabtu, 27 April 2013

PT Dirgantara Indonesia Fokus Pengembangan Pasar Pesawat Terbang ASEAN Dan Asia-Pasifik

Berbagai jenis pesawat terbang yang diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia (PT DI) makin banyak menarik perhatian para calon pembeli dari dalam negeri maupun luar negeri. Misalnya negara Timor Leste yang sudah menyatakan minatnya untuk membeli helikopter Bell 412 EP dan pesawat NC-212 dari PT Dirgantara Indonesia. Untuk beberapa tahun ke depan, PT DI masih akan fokus pada pengembangan pasar pesawat terbang di kawasan Asia-Pasifik dan ASEAN karena perusahaan menganggap kebutuhan akan pesawat terbang di kawasan ini sangat tinggi.
CN-235 produksi PT Dirgantara Indonesia. ZonaAero
Timor Leste Berminat Beli Pesawat Buatan PTDI

Timor Leste berminat membeli pesawat helikopter Bell 412 EP dan NC-212 buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI), kata Manajer Pemasaran PTDI Teguh Graito di Bandung, Jumat (26/4/2013). "Timor Leste merupakan salah satu negara ASEAN yang menjadi target pemasaran produk PTDI. Kami sudah melakukan pembicaraan terkait minatnya untuk membeli dua helikopter dan dua pesawat NC-212," kata Teguh Graito.

Untuk merealisasikan proyek penjualan itu, kata Teguh, PTDI telah melakukan pembicaraan intensif dengan salah seorang perwakilan dari Timor Leste. "Pembicaraan telah dilakukan baik di Bandung maupun di Dili, kami lihat minat mereka cukup besar untuk menggunakan produk kita," katanya.

Namun, menurut Teguh, pihaknya masih terus melakukan penjajakan untuk merealisasikan proyek tersebut. Lebih lanjut, Teguh Graito menyebutkan, perusahaan kedirgantaraan nasional itu tengah fokus untuk pengembangan pasar internasional khususnya di kawasan ASEAN, di samping melakukan pemasaran pesawat terbang di dalam negeri, khususnya untuk mendukung program pertahanan. "Pasar bagi produk pesawat yang diproduksi PTDI cukup terbuka lebar, antara lain di Asia Pasifik dan ASEAN," katanya.

Menurut Teguh, kebutuhan negara-negara dunia terhadap pesawat CN-235 cukup tinggi. Potensi kebutuhannya sekitar 400 unit per tahun. Demikian halnya jenis NC-212 juga cukup diminati dengan potensi kebutuhannya 400 unit per tahun. Ia menyebutkan, Malaysia dan Brunei merupakan negara yang telah menggunakan pesawat CN-235. Demikian halnya Korea Selatan yang memiliki skadron CN-235, belum termasuk pesawat CN-235 Maritim Patrol. Sinegal dan Burkina Paso juga menggunakan pesawat unggulan produksi PTDI tersebut dan sejauh ini operasionalnya masih cukup prima. "Pasar Afrika dan Amerika Selatan juga cukup besar, namun kami akan fokus di Asia Pasifik serta ASEAN, karena kebutuhan pesawat jenis itu cukup besar," kata Teguh.

Ia menyebutkan, tahun ini PTDI tengah menggarap proyek CN-235 pesanan Thailand yang akan rampung pada September 2013. Sedangkan untuk memperkuat produksi, pihaknya terus berupaya untuk mendapatkan pembiayaan untuk proyek itu. Hal itu telah dilakukan dengan perbankan BUMN nasional, selain itu juga melakukan penjajakan dengan Bank Expor Impor. "Penjajakan dilakukan antara lain dengan Islamic Development Bank (IDB), masih terus dilakukan. Yang pasti progress pasar yang cukup besar untuk CN-235 maupun CN-295, serta produk pesawat lainnya," kata Teguh Graito.

Sementara itu Juru Bicara PT DI Sonny Saleh Ibrahim menyebutkan, PTDI tahun ini telah menyerahkan sejumlah pesawat kepada TNI antara lain enam unit helikopter Bell-412 EP. "Tahun ini akan segera diserahkan sejumlah pesawat pesanan TNI AU maupun TNI AL, yang sudah diserahkan helikopter Bell 412 EP," kata Sonny Saleh Ibrahim menambahkan.

www.suarapembaruan.com

Senin, 01 April 2013

Pesawat Casa C-212 Produksi PT Dirgantara Indonesia Ditawarkan Kepada Myanmar

Pesawat terbang jenis Casa C-212 Aviocar yang diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia ditawarkan kepada Myanmar. PT DI memanfaatkan kesempatan penawaran pesawat Casa C-212 Aviocar pada saat mengunjungi Myanmar bersama 15 BUMN lainnya. Kunjungan kerjasama bisnis tersebut dijadwalkan pada awal April 2013. Pesawat Casa C-212 Aviocar adalah awalnya diproduksi oleh EADS CASA Spanyol, dan PT Dirgantara Indonesia adalah pemegang lisensi tunggal untuk pesawat itu di seluruh dunia.
Casa C-212 Aviocar. ZonaAero
PT DI Tawarkan Pesawat Casa 212 ke Myanmar

PT Dirgantara Indonesia berencana menawarkan pesawat Casa 212 (C-212) ke Myanmar dalam kunjungan 15 BUMN ke negara itu awal bulan April. "Jumlahnya belum ditentukan (karena) masih ada kendala. Nanti yang akan menawarkan ke Myanmar itu dari Direktur Marketing kami," kata Direktur Utama PT DI Budi Santoso dalam pesan singkat, Sabtu, 30 Maret 2013.

Kendala yang dimaksud adalah masalah komponen. "(Di sana) masih ada masalah embargo untuk komponen Amerika seperti engine dan avionic," katanya. Meski begitu PT Dirgantara Indonesia tetap akan berusaha menawarkan pesawatnya. "Saya dengar Amerika juga menawarkan produk mereka."

Sebanyak 15 BUMN akan pergi ke Myanmar guna menjajaki peluang kerjasama dan bisnis. Deputi Bidang Usaha Jasa Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Gatot Trihargo mengatakan para delegasi akan ditemani oleh Menteri Kordinator Perekonomian Hatta Rajasa dan Menteri BUMN Dahlan Iskan.

Budi menyebutkan beberapa BUMN yang ikut antara lain: PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), PT Timah (Persero), PT Garuda Maintenance Facilities (GMF), PT Bukit Asam (Persero), Perum Bulog, PT Bank BNI (Persero) Tbk , PT Pupuk indonesia, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk, PT WIKA (Persero) Tbk. "Pertemuan nanti lebih banyak G to G (pertemuan antar pemerintah). Bank Negara Indonesia (BNI) nantinya sebagai koordinator bank lokal. Dan kami akan membuat kantor yang dikoordinasi BNI, Wika, dan Pertamina," katanya.

Casa C-212 Aviocar adalah pesawat berukuran sedang bermesin turboprop yang dirancang dan diproduksi di Spanyol untuk kegunaan sipil dan militer. Pesawat ini telah diproduksi di PT. Dirgantara Indonesia, sebagai satu-satunya perusahaan pesawat pemegang lisensi di luar pabrik produsen utamanya. Pada bulan Januari 2008, EADS CASA memutuskan memindahkan seluruh fasilitas produksi C-212 ke PT. Dirgantara Indonesia di Bandung.

www.tempo.co

Sabtu, 23 Februari 2013

PT DI Dan PT Ragio Aviasi Industri Akan Kerja Sama Pembuatan Pesawat Komersial Sejenis N-250

Direktur Bidang Kualitas PT Dirgantara Indonesia mengungkapkan bahwa pihaknya akan bekerja sama dengan PT Ragio Aviasi Industri untuk pembuatan pesawat terbang komersial sejenis N-250. Pesawat terbang komersial tersebut akan memiliki kapasitas angkut 80 penumpang hingga 100 penumpang pesawat. Pihak PT Dirgantara Indonesia memperkirakan bahwa nilai jual pesawat hasil kerja sama dengan PT Ragio Aviasi Industri berkisar pada harga US$ 42 juta per unit pesawat.
Pesawat N-250 Buatan IPTN. ZonaAero
Pesawat N-250 Buatan IPTN
PT DI Akan Produksi Pesawat Komersial

PT Dirgantara Indonesia (DI) berencana merealisasikan proyek pembuatan pesawat komersial seperti N250. "Pesawatnya tetap komersial, tapi bukan N-250, melainkan pesawat sejenis," kata Direktur Bidang Kualitas sekaligus Juru Bicara PT DI, Sonny Saleh Ibrahim, di tempat kerjanya, Rabu (20/2/2013).

Sonny mengemukakan, pihaknya berkeinginan memproduksi pesawat komersial berkapasitas penumpang 80-100 orang karena pasar jenis pesawat itu terbuka lebar. Proyek itu bekerja sama dengan PT Ragio Aviasi Industri (RAI), yang terbentuk bersama dua perusahaan swasta, yakni PT Ilhabi Rekatama, milik Ilham Akbar Habibie, putra BJ Habibie; dan PT Modal Elang milik mantan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Erry Firmansyah. Sejauh ini pihaknya masih menanti kabar dan perkembangan selanjutnya dari PT RAI. Apabila program dan rencana itu tidak terealisasi, PT DI tetap berusaha mewujudkan pembangunan pesawat komersial tersebut. "Tentunya, kami mencari berbagai cara, terutama dalam hal pendanaan. Itu karena biayanya kami prediksikan sangat besar," ujar Sonny.

PT DI tahun ini sudah melakukan langkah awal dengan menyiapkan dan menyusun konsep pesawat tersebut. Jika perencanaan tahap awal ini terealisasi, maka pembuatan pesawat itu berlangsung selama 3 tahun. Sonny memperkirakan, harga jual pesawat komersial tersebut hampir setara dengan ATR. "Nilainya, lebih kurang 42 juta dollar AS per unit," ujarnya.

Berkenaan dengan rencana kerja 2013, Sonny mengatakan, pihaknya bersiap menjalin kerja sama dengan Airbus Military dalam hal pemeliharaan pesawat. Kerja sama itu saat ini belum bergulir karena masih menunggu hasil audit yang dilakukan otoritas Airbus Military. Kerja sama pemeliharaan pesawat bernilai sangat besar. Setiap tahunnya, nilai kontrak pemeliharaan pesawat dapat mencapai 600 juta dollar AS. "Nilai terbesar yaitu pesawat produksi Boeing dan Airbus. Nilainya masing-masing 270 juta dollar AS. Sisanya pesawat kecil," ujarnya.

Apabila pada akhirnya PT DI dapat menjalin kerja sama dengan Airbus Military, PT DI menargetkan kontrak Rp 500 miliar-Rp 600 miliar. "Kami melakukan berbagai persiapan. Di antaranya, menambah peralatan pemeliharaan pesawat. Kami pun memberikan pelatihan kepada beberapa teknisi agar memperoleh sertifikasi Airbus Military," katanya.

Menurut Sonny, target kontrak tahun ini senilai Rp 3,1 triliun. Nilai kontrak yang sudah terealisasi sejauh ini sekitar Rp 2,3 triliun. Penyerapan tersebut bersumber dari kontrak sejumlah pesawat, baik dengan beberapa negara, maupun dalam negeri. Saat ini PT DI terikat kontrak dengan pihak luar negeri untuk membangun CN 235 sebanyak 4 unit, CN-212 sebanyak 2 unit, dan CN-295 sebanyak 2 unit. Adapun kontrak dalam negeri antara lain pembuatan CN-235 sebanyak 3 unit dan helikopter Bell sebanyak 3 unit.

bisniskeuangan.kompas.com

Sabtu, 05 Januari 2013

Pembuatan Pesawat N-219, Langkah Strategis Membangun Kemandirian Industri Dirgantara

Pesawat N-219
PTDI Garap Pesawat Transpor Ukuran Kecil

Di tengah kondisi terpuruk, PT Dirgantara Indonesia menggarap lebih dari 40 pesanan perakitan pesawat dan helikopter untuk menyehatkan kondisi perusahaan yang pernah berjaya pada tahun 1980-an itu. Diam-diam PTDI juga menyiapkan pesawat transpor, N-219, yang diharapkan dapat mengisi kebutuhan pasar dunia akan pesawat angkut sejenis.

Sonny Saleh Ibrahim dari Humas PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dalam seminar tentang penyediaan persenjataan TNI AL dan industri dalam negeri, akhir Desember 2012, di Jakarta, menceritakan, pesawat N-219 adalah pesawat jenis short take-off and landing yang dapat beroperasi di landasan pendek, seperti di kawasan timur Indonesia. Pesawat itu punya jarak jelajah sekitar 1.000 kilometer dengan kecepatan 150 knot yang cocok melayani rute perintis. "Rencana ini strategis sekali. N-219 berukuran lebih kecil dari CASA 212-200 dengan daya angkut 19 penumpang. Ukurannya lebih kurang seperti Twin Otter yang di dunia akan segera berakhir masa operasinya dan juga berpotensi mengisi pasar yang dikuasai Cessna Caravan. N-219 sudah lolos uji tes terowongan angin (wind tunnel)," kata Sonny optimistis.

PTDI sudah mendapat dukungan sejumlah lembaga terkait, seperti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. Sebagai langkah lanjut, PTDI pun menyiapkan tiga prototipe. Kebutuhan dana bagi pembangunan tersebut mencapai 45 juta dollar AS (sekitar Rp 433 miliar). Seandainya dukungan penuh diperoleh, lanjut Sonny, N-219 bisa siap dalam waktu empat tahun sejak 2013.

Peluang kuasai pasar

Namun, biaya tersebut akan tertutup bahkan meraup untung jika N-219 yang harga jualnya sekitar 4 juta dollar AS per unit (sebagai bandingan, harga CASA 212 adalah 7 juta dollar AS per unit) mampu mengisi kebutuhan pasar lokal, regional, dan dunia akan pesawat sejenis Twin Otter yang akan segera pensiun dalam beberapa tahun mendatang. "Dalam waktu dekat, jenis Twin Otter yang pensiun mencapai 90-an unit," kata Sonny.

Dalam hitungan kasar, sekitar 90 unit Twin Otter itu senilai dengan 360 juta dollar AS pesawat N-219 dalam jumlah yang sama. Belum lagi kebutuhan akan pesawat Caravan dan tipe Twin Otter buatan China, YS-5.

Pengamat penerbangan, Dudi Sudibyo, memuji langkah PTDI demi kebangkitan industri strategis Indonesia. "Kemampuan teknis YS-5 buatan China masih di bawah Twin Otter. Kalau N-219 memiliki kemampuan di atas atau setara Twin Otter atau varian barunya, yakni New Twin Otter, tentu kita akan memiliki peluang besar menguasai pasar," kata Dudi.

Dia mengingatkan, pasar dalam negeri harus lebih dahulu direbut. Sejumlah operator yang mengoperasikan pesawat tipe perintis, seperti maskapai Merpati, Air Fast, Wings Air, Trigana, dan Susy Air, haruslah didekati PTDI. Saat ini, operator seperti Air Fast, lanjut Dudi, sudah mengoperasikan jenis New Twin Otter. Dudi menerangkan, Twin Otter yang berbasis di Kanada membuat pesawat sesuai dengan kebutuhan operator. Twin Otter domestik yang beroperasi di Kanada berbeda karakter dengan Twin Otter yang dioperasikan di Himalaya dan daerah lain. "Saya berharap PTDI bisa gesit seperti Airbus. Coba lihat betapa Airbus 350 yang belum jadi sudah mendapat pesanan ribuan unit. Belum lagi Airbus dan Boeing sangat tanggap terhadap layanan purnajual. China yang baru mengembangkan industri dirgantara sangat belajar dari rekam jejak Airbus dan Boeing. Kelemahan kita di Indonesia, termasuk di PTDI, adalah mengurus hal-hal seperti diuraikan tersebut," paparnya.

Produk dalam negeri

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dalam penutupan seminar TNI AL menegaskan, sesuai undang-undang, pihaknya akan mengutamakan menggunakan produksi dalam negeri jika sudah tersedia. Beberapa waktu sebelumnya, Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin memuji PTDI yang mengerjakan sejumlah helikopter dan pesawat angkut pesanan Kementerian Pertahanan meskipun perbankan belum mengucurkan dana pinjaman.

Pesawat N-219 adalah salah satu langkah strategis membangun kemandirian dan meraih keuntungan bisnis dirgantara. Waktu akan membuktikan apakah PTDI akan mendapat dukungan dan bekerja sepenuh daya meraih peluang berkembangnya pasar penerbangan dunia serta kebutuhan menghubungkan pulau-pulau dan daerah terisolasi di Indonesia.

nasional.kompas.com

N-219, Pesawat Angkut Rancangan PT Dirgantara Indonesia

N-219
N-219 adalah jenis pesawat multi fungsi bermesin dua yang saat ini tengah dirancang dan dikembangkan oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Pesawat ini didesain untuk dapat dioperasikan di daerah-daerah terpencil. Sebagian besar badan N-219 ini terbuat dari logam dan dirancang untuk mengangkut penumpang maupun kargo. Pesawat yang dibuat dengan memenuhi persyaratan FAR 23 ini dirancang memiliki volume kabin terbesar di kelasnya dan pintu fleksibel yang memastikan bahwa pesawat ini bisa dipakai untuk mengangkut penumpang dan juga kargo.

Sebelum memasuki tahap produksi, PT DI terlebih dahulu akan membuat dua unit purwarupa N-219 untuk menjalani uji terbang serta satu unit purwarupa untuk tes statis pada tahun 2012. Program pembuatan purwarupa sendiri direncanakan memakan waktu selama dua tahun dengan pengalokasian dana yang dibutuhkan sebesar Rp 300 miliar.

N-219 melakukan uji terbang di laboratorium uji terowongan angin pada bulan Maret 2010. Pesawat N219 baru akan bisa diserahkan kepada pemesan pertamanya untuk diterbangkan sekitar 2014-2015. N-219 ini merupakan pengembangan dari NC-212 yang sudah diproduksi oleh PT DI dibawah lisensi CASA.
Desain N-219
Fitur Utama Pesawat N-219
  • Fungi : angkut penumpang dan kargo (Multi fungsi, dapat dikonfigurasi ulang)
  • Kapasitas : 19 Penumpang (konfigurasi tiga sejajar)
  • Kinerja lepas landas dan mendarat : jarak pendek/STOL (600 m)
  • Biaya operasional : rendah
  • Mesin : 2 unit 850 shp
Kinerja Pesawat N-219
  • Kecepatan jelajah maksimum : 395 km / jam (213 KTS)
  • Kecepatan jelajah ekonomis : 352 km / jam (190 KTS)
  • Rata rata feri Maksimum : 1.580 Nm
  • jarak lepas landas (halangan 35 kaki) : 465 m, ISA, SL
  • jarak mendarat (halangan 50 kaki) : 510 m, ISA, SL
  • Kecepatan jatuh (stall) : 73 KTS
  • Berat lepas landas maksimum (MTOW) : 7.270 kg (16,000 lbs)
  • Muatan Maksimum : 2.500 kg (5,511 lb)
  • Tingkat panjat : 2.300 kaki / menit (semua mesin operasi)
  • Jarak: 600 Nm
Wikipedia.org