Cari di Blog Ini

Jumat, 24 Februari 2012

PT GMF AeroAsia Dapatkan 9 Kontrak Jangka Panjang Penerbangan Asing

PT GMF AeroAsia Dapatkan 9 Kontrak Jangka Panjang Penerbangan Asing.
GMF raih kontrak US$137 juta

PT GMF AeroAsia, penyedia jasa perawatan pesawat anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk, meraup kontrak senilai US$136,55 juta atau Rp1,22 triliun di ajang Singapore Airshow 14-19 Februari 2012. Untuk kontrak perawatan pesawat mencapai US$101,3 juta atau Rp911,7 miliar yang berasal dari sembilan perusahaan penerbangan dan perusahaan penyewaan pesawat. VP Marketing GMF AeroAsia Jemsly Hutabarat mengatakan GMF menandatangani 9 kontrak jangka panjang dengan 6 perusahaan asing dan 2 perusahaan dalam negeri yakni Sriwijaya Air dan Travira Air. "Seluruhnya mencapai US$136,55 juta. Semuanya merupakan kontrak jangka panjang yakni 3-5 tahun," kata Jemsly.

Dia menambahkan dari 9 kontrak yang diperoleh selama pameran, satu perusahaan asal Thailand melanjutkan penandatangan kontrak di Jakarta karena pada saat pameran berhalangan hadir. Nilai kontrak dari perusahaan Thailand ini mencapai US$6,05 juta, sehingga nilai kontrak yang ditandatangani selama pameran untuk perawatan pesawat saja sebenarnya US$92,25 juta.

Jemsly menambahkan pihaknya juga mendapat komitmen pengembangan bisnis dari sejumlah perusahaan asing sebesar US$35,25 juta selama pameran Singapore Airshow. Dengan demikian total nilai transaksi yang diperoleh GMF selama ajang pameran pesawat terbesar tahun ini mencapai US$136,55 juta atau setara dengan Rp1,22 triliun (kurs 1 US$ = Rp9.000). Jemsly menyebutkan perusahaan yang menjalin kerjasama dengan GMF di antaranya Travira Air, Sriwijaya Air, CIT Leasing Corporation asal Amerika Serikat, United Airways asal Bangladesh, dan Vietjet Air asal Vietnam. Dengan Travira Air, perseroan menandatangani kontrak perawatan pesawat B737-Series. Travira tercatat sebagai customer GMF karena memiliki kontrak jangka panjang. Perjanjian ini berlaku hingga 3 Oktober 2013.

Sesuai kapasitas

Direktur Utama GMF AeroAsia Richard Budihadianto mengatakan kerja sama dengan GMF masih untuk perawatan B-737 series, sesuai dengan kapabilitas GMF. Kerja sama yang disepakati dengan GMF meliputi perawatan airframe, engine, component, dan engineering services. "Sebagai perusahaan MRO terbesar di Indonesia, GMF masih menguasai sekitar 70% pangsa pasar perawatan nasional," tutur Richard.

GMF AeroAsia juga menandatangani kontrak perawatan pesawat-pesawat milik CIT Leasing Corporation, Amerika Serikat. EVP Corporate Development and Marketing GMF Agus Sulistyono mengatakan CIT Leasing Corporation merupakan perusahaan besar yang bergerak di banyak bidang dan termasuk dalam 500 besar perusahaan dunia versi majalah binis Fortune. Salah satu bidang yang menjadi andalan bisnis CIT Leasing Corporation adalah sektor transportasi dengan menyewakan pesawat. Menurut Agus, kerja sama dengan perusahaan sebesar CIT Leasing Corporation akan memperkuat posisi GMF AeroAsia di pasar perawatan pesawat Amerika. "Tidak mudah meraih kepercayaan dari perusahaan sebesar CIT," katanya.

Untuk menembus pasar internasional, lanjut Agus, GMF AeroAsia telah memiliki sertifikasi dari FAA (Amerika Serikat) dan EASA sebagai barometer perawatan pesawat global. Produk dan layanan yang dihasilkan GMF AeroAsia telah menembus ke lebih dari 45 negara di lima benua dengan beragam perawatan untuk berbagai jenis pesawat. Bahkan untuk perawatan pesawat B747 dan engine Roll Royce 183 Spey 555, GMF telah menjadi pemain dominan di tingkat pasar global, yang ditandai dengan pangsa pasar global yang signifikan.

Saat ini pasar perawatan pesawat global terus tumbuh dan meningkat. Pasar perawatan global diperkirakan mencapai US$56,7 miliar atau sekitar Rp510 triliun pada 2014. Indonesia berpeluang meningkatkan penyerapan pasar perawatan global ini seiring pertumbuhan industri penerbangan dunia yang terus meningkat secara signifikan. Apalagi fenomena pertumbuhan pasar perawatan pesawat itu hampir terjadi di seluruh negara. Tahun ini pasar perawatan pesawat juga tidak akan lagi dimonopoli maskapai yang memiliki bengkel, tetapi juga diserahkan kepada pihak lain yang memiliki fasilitas perawatan. "Dari pasar yang tersedia, 73% di antaranya akan di-outsource ke perusahaan perawatan pesawat. Outsourcing ini diarahkan ke Asia Pasifik dan Amerika Selatan," tuturnya.

Tren itu, jelas Agus, berkembang lantaran perusahaan MRO di Eropa dan Amerika Utara lebih memilih untuk fokus menggarap industri berteknologi tinggi dan padat modal, sehingga perawatan airframe diserahkan kepada pihak lain.

www.bisnis.com